Tumbelaka: Recky Sondakh tak Beretika

Manado – Pelemik di internal Unversitas Sam Ratulangi antara pihak rektorat melawan Community Education Smart Care (CESC) yang lebih dikenal dengan nama tim 10 yang dipimpin DR Flora Kalalo yang berujung saling tuding sehingga keluar kata provokator dari mulut Rektor Unsrat Donald Rumokoy mendapat tanggapan Ketua DPRD Sulut, Meiva Salindeho-Lintang.
Menurutnya, ucapan tersebut tak pantas keluar dari mulut seorang pimpinan tertinggi sebuah universitas yang notabene adalah institusi sumber pengajaran etika dan peradaban, serta sudah kehilangan nilai akademisi dan ilmiah.
“Terus terang saya kecewa beliau (Rektor Unsrat) telah kehilangan nilai akademisi dan nilai-nilai ilmiah dalam menyampaikan sesuatu. Jadi, misalnya kalau ada orang mengatakan suatu makian kepada saya, sebagai seorang akademisi apakah saya akan balas juga hal yang sama?” ujar Meiva.
Terkait jalannya hearing yang sempat terjadi perang argumen antara Benny Rhamdani, anggota komisi 4 DPRD Sulut dengan seorang “penyusup” oknum dosen bernama Recky Sondakh yang tidak diundang sehingga tidak memiliki hak bicara tapi tiba-tiba nyeletuk menyerang Rhamdani, ditanggapi pemerhati pendidikan Taufik Tumbelaka.
Menurut mantan aktifis UGM ini, kedepan dalam setiap hearing pimpinan rapat harus tegas terhadap peserta hearing termasuk masyarakat umum yang hadir pada hearing tersebut. Pimpinan harus menegur kepada pihak yang tidak diundang untuk berbicara agar tidak berbicara mengenai materi rapat, bahkan diduga diskenariokan oleh pihak tertentu untuk mengacaukan jalannya rapat.
“Yang dilakukan dr Recky Sondakh jelas-jelas adalah pelanggaran, dan pimpinan rapat wajib memberikan teguran. Ini pembelajaran bagi pimpinan, dan pihak sekretariat dewan harus lebih memperketat keamanan menyangkut ketertiban rapat. Bahkan jika terjadi seperti ini lagi, bagian pengamanan DPRD Sulut bisa mengeluarkan oknum-oknum yang sengaja ingin mengacaukan jalannya rapat,” tukas Tumbelaka, siang tadi.
Dijelaskan Tumbelaka, hearing yang dilakukan DPRD Sulut menyangkut masalah publik selalu dilakukan secara terbuka dan bisa diikuti masyarakat. Namun dalam tata-tertib diatur bahwa yang memiliki hak bicara adalah undangan resmi, sementara diluar itu hanya memiliki hak mendengar.
“Ini rapat di gedung dewan sehingga tidak boleh seenaknya begitu, apalagi yang melakukan itu adalah seorang akademisi. Sungguh memalukan! Ada logika etika dan logika norma. Kalau ingin bicara, apakah hanya dia (Recky Sondakh) yang ingin bicara? Banyak juga yang mau bicara, saya juga ingin bicara, tapi ada aturan! Ini lembaga dewan bukan pasar,” tegasnya lagi. (mega)

Kata provokator berasal dari kata provokasi. Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008:1108) mengartikan provokasi sebagai perbuatan untuk membangkitkan kemarahan; tindakan menghasut; penghasutan; pancingan. Itu berarti bahwa provokator adalah pembangkit kemarahan, penghasut, dan pemancing. “Perbuatan” tersebut tentunya termauk juga beragam tulisan yang berisi provokasi. Isi tulisannya mengarahkan pembaca untuk marah, terhasut, dan terpancing.
Marilah kita berintrospeksi diri, apakah kita benar2 bersih dari provokasi?
Salam kasih.
untuk sekarang ini rektor unsrat donald rumoky masih layak utk masa jabatan kedua. Beri kesempatan dan beliau akan tunjukan kinerja membangun unsrat menjadi universitas mendunia. Maju terus pak donald, yg lain silahkan bersaing sehat. Hati2 pak rektor dalam pemilihan nanti jgn pake doi; anda akan dijebak n masuk penjara karena money support…….kaarena skrg ada skenario mau menjebak anda. dmklah………..
So bagini noh kalo ada pilih dgn nilai rupiah pasti akan jatuh dgn nilai2 yg jelek..Rektor bukan tidak pantas tapi lebih baik di pensiunkan dini, lihat saja kasus plagiat yg bawa TS jadi profesor.Profesor gadungan.Buat saudara Recky Sondakh, beliau bukan tidak pantas tapi dia wajar melakukan hal itu karena dia incar jabatan di IKM.Cium dulu pantat Rumokoy baru dapa JOB.Jalan tengah UNSRAT adalah RUMOKOY pensiun dini KUMAAT jadi dosen biasa yang jadi Rektor Daniel Pangemanan. Beliau lebih cocok. Supaya dunia tau Daniel juga bisa pimpin Unsrat..Cuma sayang dia bukan dosen. Cuma PNS di rektorat..
Bawa saja ke rumah loe
So terlalu banyak gelar akademis harusnya dapat menahan diri dalam perkataan apalagi pemimpin suatu institusi pendidikan….Ini yang mau dicontoh? Kalau pemimpin nda bisa dikoreksi dan orang yang mengkoreksi di bilang Provokator mau dibawa kemana nasib Tong pe Unsrat!!