Berita Utama

Jalan Braga, Bandung Tempo Doeloe yang Selalu Memikat

image

Jalan Braga yang identik dengan bebatuan andesit.

Bandung-Jalan Braga Bandung adalah nama sebuah jalan utama di Kota Bandung.

Tempat Wisata Jalan Braga Bandung berkonsep One Stop Holiday di pusat Kota Bandung ini merupakan pusat keramaian dan bisnis utama di kota Bandung. Bisa dibilang, Jalan Braga merupakan tampilan Bandung ‘tempo doeloe’ yang selalu memikat hati wisatawan.

Sejak zaman kolonials Belanda di Indonesia, Jalan Braga Bandung sudah dijadikan sebagai jalanan protokoler di Kota Bandung, sebagai terusan jalan utama dari arah Gedung Konferensi Asia Afrika. Ciri khas jalannya sempit dan terbuat dari batu andesit.

“Saya salut dengan Pemkot Bandung yang tetap menjaga bangunan asli disini. Di beberapa titik saya menemukan plakat yang menjelaskan jika sebagian besar bangunan di jalan Braga adalah cagar budaya,” ujar Ira Rachmawati, salah satu pengunjung dari Banyuwangi, Jatim, Senin (8/6/2015).

Tata letak pertokoan tersebut mengikuti model yang ada di Eropa sesuai dengan perkembangan Kota Bandung pada masa 1920-1940 sebagai kota mode yang cukup termasyhur seperti halnya Kota Paris pada saat itu, seperti pertokoan Sarinah, Apotik Kimia Farma dan Gedung tempat diselenggarakannya Konferensi Asia Afrika Gedung Merdeka (Societeit Concordia). Olehnya, Bandung dijuluki Paris Van Java.

“Ini gila. Siapa bilang sejarah tidak bisa dikemas menjadi sesuatu yang menarik. Sesuatu yang menyenangkan,” tambah wanita berkerudung itu.

Namun, tak hanya Bandung yang punya wisata sejarah Beberapa bangunan bersejarah di Manado seperti Sekolah Don Bosco milik Gereja Katolik Keuskupan Manado, dahulunya adalah Rumah Sakit yang dikelola oleh Belanda ketika mereka menduduki Indonesia. Ada juga Rumah Sakit Robert Wolter Mongisidi milik TNI AD, dahulunya adalah markas dan penjara Belanda ketika mereka menduduki Indonesia serta Gedung Dewan Minahasa (Minahasa Raad) pada jaman pendudukan Belanda di Manado atau Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah sekarang. Lanjut ke arah pusat kota, ada Gereja Sentrum yang dahulunya adalah Oude Kerk (Gereja Tua) Bangsa Belanda yang ketika itu menduduki Indonesia dan Klenteng Ban Hin Kiong yang merupakan pusat bagi umat Budha untuk beribadah.

Bedanya, tinggal cara pemerintah mengemas sera mempromosikan hal itu menjadi sesuatu yang menarik wisatawan. Pasalnya banyak bangunan bersejarah di Manado yang seolah minim perawatan. Meski begitu tak bisa ditampik bahwa Manado selalu memberi kesan manis bagi pengunjungnya.

“Saya pernah ke Manado. Kota yang indah, bersih dan makanan yang enak. Saya ingin kembali bisa kesana,” kata Suiyatri Arif, warga Kendari Sultra.(Finda Muhtar)

image

image

image

BeritaManado.com: Berita Terkini Kota Manado, Sulawesi Utara