
Industri kapal pesiar Asia Tenggara menghasilkan perkiraan output ekonomi sebesar 10 miliar dolar AS (1 dolar AS = Rp17.135) dan menyumbang sebesar 4,5 miliar dolar AS bagi produk domestik bruto (PDB) pada 2024, menyoroti perannya yang makin besar dalam perekonomian regional.
Demikian diungkap sebuah laporan gabungan dari lembaga analisis Tourism Economics dan organisasi Cruise Lines International Association yang dirilis pada Selasa (14/4).
Menurut laporan itu, Asia Tenggara mencatat 3,9 juta kunjungan penumpang dalam industri kapal pesiar, dengan Singapura dan Malaysia menyumbang sebagian besar kunjungan penumpang ke pelabuhan, masing-masing sebesar 48 persen dan 22 persen dari total.
Sementara itu, pariwisata kapal pesiar mendukung sekitar 529.000 pekerjaan di seluruh Asia Tenggara, mengisi peran-peran, baik di darat maupun di atas kapal, yang setara dengan 30 persen dari pekerjaan di seluruh dunia yang berkaitan dengan kapal pesiar.
Di seluruh Asia Tenggara, total pengeluaran yang berkaitan dengan kapal pesiar mencapai 5,6 miliar dolar AS, mewakili 6 persen dari pengeluaran global yang berkaitan dengan kapal pesiar, dengan upah staf perusahaan kapal pesiar menyumbang porsi terbesar, yakni 38 persen.
Pembelian oleh perusahaan kapal pesiar menjadi kontributor terbesar kedua dengan 34 persen, disusul oleh pengeluaran penumpang dan awak kapal sebesar 19 persen, sementara pembuatan kapal dan aktivitas terkait kapasitas menyumbang 8 persen sisanya.
Di tingkat negara, Singapura menghasilkan total output tertinggi sebesar 3,6 miliar dolar AS, disusul oleh Filipina sebesar 3,2 miliar dolar AS, dan Indonesia sebesar 1,5 miliar dolar AS.
Namun, Filipina membukukan kontribusi PDB terbesar di angka 1,6 miliar dolar AS, melampaui Singapura sebesar 1,4 miliar dolar AS, karena didorong oleh dampak yang lebih kuat terkait upah. Kontribusi PDB tersebut kemudian diikuti oleh Indonesia, yang menghasilkan dampak PDB sebesar 700 juta dolar AS.
