
BeritaManado.com — Di tengah kabut pagi yang masih menyelimuti, gemuruh klakson kapal memecah keheningan di Pelabuhan Guanlei, sebuah permata tersembunyi di Prefektur Otonom Etnis Dai Xishuangbanna, Provinsi Yunnan, China.
Sebuah tongkang sarat muatan durian Musang King dari Thailand perlahan merapat, membawa serta aroma manis sang “raja buah” yang siap memanjakan lidah.
Dalam waktu kurang dari 48 jam, durian-durian ini akan membanjiri pasar buah Kunming dan rak-rak supermarket di Chongqing.
Di sisi lain dermaga, puluhan truk berat buatan China telah berbaris rapi, menanti giliran untuk naik kapal dan menyusuri “jalur emas” Sungai Lancang-Mekong menuju Myanmar.
Gerbang Emas Perdagangan di Jantung Asia
Pelabuhan perbatasan Guanlei ini, yang dalam bahasa etnis Dai berarti “tempat mengejar rusa emas”, adalah titik di mana Sungai Lancang mengalir keluar dari wilayah China.
Kini, tempat ini menjadi saksi bisu kebangkitan jalur perdagangan penting yang menghubungkan China dengan negara-negara Asia Tenggara.
Terletak strategis di wilayah Mengla, Provinsi Yunnan, Pelabuhan Guanlei berada tepat di pertemuan Sungai Lancang dan Mekong.
Ini adalah pintu gerbang utama bagi barang-barang dari Laos, Myanmar, dan Thailand yang masuk ke China melalui jalur sungai.
Berbatasan langsung dengan Myanmar di barat dan terhubung dengan Laos via darat di selatan, pelabuhan ini telah menjadi titik vital dalam kerja sama logistik China dan negara-negara Mekong sejak dibuka resmi untuk perdagangan luar negeri pada 10 Desember 2024.
Infrastruktur Mumpuni, Perdagangan Melonjak dan Efisiensi Meningkat
Menurut data Bea Cukai Xishuangbanna, volume perdagangan ekspor dan impor di Pelabuhan Guanlei melonjak drastis pada paruh pertama (H1) 2025.
Totalnya mencapai 125.600 ton dengan nilai 1,547 miliar yuan (sekitar Rp3,5 triliun).
Ini adalah kenaikan fantastis sebesar 92,8 persen dan 136,5 persen secara tahunan (yoy).
Khusus ekspor truk derek, traktor, dan kendaraan berat lainnya, nilainya mencapai 38,74 juta yuan, naik 30,6 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.
“Truk berat buatan China sangat diminati di Myanmar karena tenaganya besar, kabin luas, dan kenyamanan berkendara yang baik,” jelas Ouyang Xing, Direktur Xingde International Freight.
Ia juga memuji layanan bea cukai yang kini memberikan layanan satu pintu dan solusi pengawasan yang disesuaikan, menjadikan ekspor kendaraan jauh lebih efisien dan meningkatkan kepuasan pelanggan.
Dahulu kala, pengiriman barang sempat terhambat.
“Jarak 28 kilometer dari Pelabuhan Guanlei ke Jalan Tol Mengyuan butuh waktu lebih dari satu jam dengan truk, apalagi saat musim hujan,” kenang Dong Dongdong, Wakil Kepala Kantor Bea Cukai Guanlei.
Namun, itu kini tinggal cerita lama karena pada awal Juli 2025, Jalan Tol Mengyuan-Guanlei resmi beroperasi dan terintegrasi dengan jaringan jalan tol nasional.
