
Kotamobagu, BeritaManado.com — Gereja Masehi Injili di Bolaang Mongondow (GMIBM) melalui Badan Pekerja Sinode menyampaikan Surat Penggembalaan sebagai respons atas dinamika sosial dan politik yang tengah melanda Indonesia.
Gelombang demonstrasi yang marak terjadi di berbagai daerah, termasuk di ibu kota negara, menjadi keprihatinan mendalam karena sering diwarnai aksi anarkis, perusakan fasilitas umum, hingga benturan dengan aparat.
Dalam surat yang ditujukan kepada seluruh jemaat, badan pelayanan, serta pengurus yayasan di lingkungan GMIBM, ditegaskan bahwa gereja terpanggil bukan hanya untuk menjadi terang dan garam dunia, tetapi juga menyuarakan kebenaran dan keadilan demi bangsa yang dicintai.
Badan Pekerja Sinode GMIBM menekankan beberapa pokok penting, antara lain:
1. Doa bagi bangsa – GMIBM memiliki tanggung jawab untuk senantiasa mendoakan Indonesia agar terhindar dari ancaman yang dapat meruntuhkan persatuan. Setiap ibadah Minggu, kolom, kompel, dan persekutuan BIPRA diimbau menjadikan doa untuk bangsa sebagai bagian utama pelayanan.
2. Hak menyampaikan pendapat – Gereja mengakui bahwa menyampaikan aspirasi di muka umum adalah hak konstitusional rakyat Indonesia. Namun, hal ini harus dijalankan secara etis dan bertanggung jawab, tidak dengan tindakan yang merusak ataupun menimbulkan kerugian.
3. Kritik yang membangun – Demonstrasi pada dasarnya merupakan sarana menyampaikan kritik terhadap kebijakan pemerintah. Tetapi, GMIBM mengingatkan agar masyarakat lebih mengedepankan etika dan moralitas serta menjauhi kekerasan, pembakaran, dan penjarahan.
4. Peran aparat keamanan – Kepada seluruh aparat, GMIBM menyerukan agar menghindari tindakan represif yang dapat merendahkan martabat manusia. Penegakan aturan hendaknya tetap menjunjung tinggi harkat dan keselamatan nyawa.
5. Ajakan kepada pemerintah – GMIBM mengingatkan para pemimpin bangsa, khususnya anggota DPR dan pemerintah, untuk mengevaluasi kebijakan dengan hati nurani, tanpa diskriminasi, demi kesejahteraan rakyat Indonesia.
6. Kasih yang kritis – GMIBM menegaskan bahwa kasih kepada bangsa bukanlah kasih yang buta, melainkan kasih yang berani menegur bila penyelenggara negara tidak berpihak pada rakyat. Namun, kasih itu tetap berakar pada Kristus yang membangun, bukan merusak.
Surat Penggembalaan ini ditandatangani oleh Ketua Pelaksana Harian BPS GMIBM, Pdt. Dr. Fekky W. Kamasaan, M.Min, dan Sekretaris, Pdt. Jemy J.S. Tangkere, M.Th.
Melalui pesan ini, GMIBM berharap seluruh warga gereja di Sulawesi Utara dan Bolaang Mongondow raya terus mencintai kedamaian, merawat persatuan, serta hidup dalam semangat kasih Kristus di tengah keberagaman yang adalah anugerah Tuhan.
(rds)
