Opini

Geliat Banteng Beringas di Utara Sulawesi

Situasi ini tentu tidak dikehendaki oleh penguasa Orba. Segala cara untuk menjatuhkan Megawati pun terus dilakukan, mulai dari menciptakan PDI tandingan (PDI Reshufle Yusuf Merukh), hingga cara-cara penggembosan dari dalam (16 pengurus) yang berujung pada konggres Medan yang dilegitimasi oleh Mendagri ketika itu, Yogie Suardi Memet.

Inilah yang kemudian memicu aksi mimbar bebas di halaman kantor PDI, jalan Diponegoro, Jakarta Pusat, sebagai peristiwa Sabtu berdarah, 27 Juli 1996, yang juga dikenal dengan KUDATULI (kerusuhan dua pulu tujuh juli).

Setahun kemudian, yakni pada Pemilu 1997, PDI Pro Mega melakukan aksi “golput” karena larangan pemerintah untuk memilih Megawati.

Dari perjalanan sejarah panjang ini, ternyata tidak lepas dari peran sejumlah masyarakat yang merupakan warga Sulawsi Utara.

Bahkan, sejumlah tokoh Sulawesi Utara justru menjadi terdepan dalam memperjuangkan demokrasi yang di zaman Orba sangat terbelenggu itu.

Kasus KUDATULI misalnya, tidak lepas dari peran Binyo (anak-anak Manado, red), yang dengan gigih mempertahankan kantor PDI dari gempuran PDI Suryadi yang dibantu aparat.

Tidak sedikit jiwa yang melayang. Bahkan laporan dari komnas HAM, ada puluhan hingga ratusan korban yang hilang (atau dihilangkan).

Sementara di Sulawesi Utara sendiri, terjadi gerakan yang sangat masif mendukung Megawati Soekarno Putri dengan melakukan penolakan kepengurusan PDI Suryadi ketika itu.

Termasuk mengambil langkah hukum yang ditempuh PDI Pro Mega Sulut ketika itu dan terus berlanjut pada peristiwa demonstrasi mahasiswa yang muak melihat perilaku Soeharto ketika itu lalu berujung pada gerakan menumbangkan penguasa Orba pada 21 Mei 1998, juga melibatkan banyak mahasiswa asal Manado, termasuk Saya (Sandra Rondonuwu), Meidy Tinangon, dan lain-lain.

Ketika pemerintahan transisi Reformasi menggelar Pemilu 1999, Megawati pun merubah nama PDI menjadi PDI Perjuangan untuk bisa ikut pemilu pada tahun 1999 dan muncul sebagai pemenang.

Geliat Di Utara

Pemilu 1999 adalah masa kebangkitan PDI Perjuangan.

Banteng luka itu sembuh dan mengamuk.

Pulau Jawa dan Bali ketika itu merah total (metal).

Euforia ini justru kurang terjadi di Sulawesi Utara.

Meski lumayan mendapatkan suara, tapi PDI Perjuangan masih kalah dari Golkar.

Karena itu, PDIP hanya mampu menempatkan Fredy Sualang pada posisi Wakil Gubernur berpasangan dengan Gubernur AJ Sondakh dari Golkar.

Tapi dibalik itu, pada tahun 2004, salah satu kader terbaik partai berhasil melenggang ke Senayan.

BeritaManado.com: Berita Terkini Kota Manado, Sulawesi Utara