Kota Bitung

Gaduh di Kapal Pemerintahan Maurits-Hengky

Tujuannya jelas, Maurits-Hengky betul-betul menginginkan awak yang ditempatkan Dewan Pengawas dan Direksi BUMD betul-betul mampuni agar bisa bekerja profesional, bukan terus-menerus menjadi parasit APBD.

Maurits-Hengky paham betul, APBD hanya mampu membiayai operasional kapal, namun dana untuk mendanai Bitung Tersenyum tidak ada sehingga perlu menggenjot BUMD lewat SDM brilian bukan SDM karbitan.

THL juga demikian. Maurits-Hengky menginginkan SDM siap pakai dan bukan hanya sekedar merekrut THL tanpa tahu persis kemampuan yang dimiliki.

Semua terukur, dengan harapan Maurits-Hengky memiliki data riil kemampuan SDM kota ini tanpa harus mengira-ngira dan lagi-lagi hanya berpijak pada jalur kedekatan dan politik.

Impian SDM Bitung Hebat betul-betul ingin diciptakan dengan tujuan kelak kita tak jadi tamu dan penonton di kota sendiri agar tragedi THL impor tidak kembali terulang.

Tak Populis

Dua kebijakan Maurits-Hengky di awal pemerintahan ini sangat tidak populis bagi mereka yang merasa bekerja saat Pilkada dan menjadi biang kegaduhan hanya karena SDM yang tidak siap bersaing secara profesional.

Dan dari amatan, kebijakan yang jauh melenceng dari zona nyaman ini akan terus menimbulkan kegaduhan saat penentuan jabatan OPD nantinya.

Siap tidak siap, Maurits-Hengky sementara membuat lompatan yang tidak populis untuk sebuah perubahan pola berpikir membangun kota ini.

Sudah siapkah kita?
Pilihannya, kembali lagi ke pola pikir kita. Apakah terus membuat gaduh dengan menuntut balas jasa ataukah segera meraih pelampung dan melompat meninggalkan kapal. Ataukah ikut ambil bagian mendayung bersama Maurits-Hengky menuju Bitung Hebat dan Bitung Tersenyum.

(*)

BeritaManado.com: Berita Terkini Kota Manado, Sulawesi Utara