Menguatnya pertumbuhan investasi di Sulawesi Utara pada tahun 2019 terutama bersumber dari Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) yang tumbuh tinggi pada tahun 2019.
Indikator investasi lainnya seperti nilai impor barang modal juga tercatat tumbuh kuat sebesar 20,43% (yoy) .
Ke depan, Bank Indonesia optimis pertumbuhan ekonomi Sulawesi Utara tumbuh positif dan cenderung menguat pada tahun 2020.
Harga komoditas utama yang mulai menunjukan tren positif sejak Oktober 2019 dan potensi penyesuaian kebijakan perikanan diperkirakan menjadi faktor pendorong kinerja LU pertanian dan industri pengolahan serta ekspor dari Sisi permintaan.
Sementara itu, kinerja transportasi diperkirakan akan menguat seiring adaptasi masyarakat terhadap range tiket pesawat dan peningkatan aksesibilitas di wilayah Sulawesi Utara.
Investasi dan konstruksi juga diperkirakan akan tumbuh menguat di tahun 2020 seiring percepatan pembangunan Proyek Strategis Nasional seperti Jalan Tol Manado-Bitung, Bendungan Kuwil Kawangkoan, dan Bendungan Lolak.
Selain itu, pembangunan KEK Pariwisata Likupang yang dimulai pada tahun 2020 dan pembangunan akses untuk mendukung peningkatan pariwisata diperkirakan akan ikut mendorong pertumbuhan investasi.
Sementara itu, konsumsi pemerintah diperkirakan akan menjadi faktor pendorong perekonomian di tahun 2020 seiring adanya perbaikan realisasi belanja pemerintah.
Bank Indonesia terus mencermati berbagai perkembangan serta risiko eksternal dan domestik.
Risiko eksternal berupa risiko terkait rencana pengetatan kebijakan moneter di negara ekonomi maju, risiko kenaikan harga minyak, perang dagang serta berlanjutnya tren negatif harga komoditas.
Di sisi domestik, risiko berasal dari belum kuatnya konsumsi rumah tangga dan intermediasi perbankan.
Khusus regional Sulut, risiko bersumber dari permasalahan di infrastruktur seperti pembebasan Iahan di lokasi KEK Bitung dan PSN serta keterbatasan pasokan listrik seiring dengan naiknya kebutuhan masyarakat terhadap daya listrik.
Bank Indonesia akan terus berkontribusi nyata dalam mendorong pertumbuhan ekonomi Sulawesi Utara, baik melalui strategic advisory, pengendalian inflasi, pengedaran uang, pengembangan IJMKM dan wirausaha, mendorong gerakan non tunai melalui implementasi QR Code Indonesian Standard (QRIS), pengembangan SDM Sulut serta memonitor berbagai perkembangan baik domestik maupun eksternal, sekaligus memperkuat koordinasi dengan Pemerintah Daerah.
Meskipun pertumbuhan ekonomi Sulut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional tahun 2019 yang tercatat sebesar 5,02% (yoy), pertumbuhan ekonomi Provinsi Sulut relatif lebih rendah dibandingkan provinsi-provinsi lainnya di Sulawesi.
“Oleh karena itu, perlambatan pertumbuhan ekonomi tahun 2019 perlu dijadikan pemicu untuk terus mengembangkan sumber-sumber pertumbuhan ekonomi baru di Sulawesi Utara diantaranya melalui upaya intensifikasi dan ekstensifikasi produksi pertanian serta menciptakan hilirisasi dan diversivikasi Industri Pengolahan maupun pengembangan pariwisata,” tutup Arbonas.
(***/Srisurya)
