
Manado, BeritaManado.com — Perekonomian Sulawesi Utara tahun 2019 tercatat tumbuh sebesar 5,66% (yoy), melambat dibandingkan pertumbuhan ekonomi tahun 2018 yang mencapai 6,01% (yoy) (sumber:BPS).
Perlambatan perekonomian global mempengaruhi kinerja Lapangan Usaha (LU) industri dan ekspor sehingga perekonomian tumbuh melambat.
Sebaliknya, penguatan LU pertanian dan perdagangan menahan pertumbuhan ekonomi Sulawesi Utara melambat lebih dalam.
LU industri, yang didominasi oleh industri pengolahan makanan dan minuman, tercatat tumbuh sebesar 0,31% (yoy) pada tahun 2019 melambat dibandingkan tahun sebelumnya yang tumbuh sebesar 4,48% (yoy).
Perlambatan yang terjadi pada LU tersebut imbas dari perekonomian dunia yang diproyeksikan tumbuh melambat pada tahun 2019, menyebabkan harga-harga komoditas dunia mengalami penurunan.
Salah satu komoditas dunia yang mengalami penurunan harga adalah coconut oil (CNO) yang menjadi andalan Sulawesi Utara.
Harga CNO dunia melanjutkan tren negatifnya selama enam bulan pertama 2019 dan secara tahunan rata-rata harganya tercatat terkontraksi sebesar 26,76% (yoy) (sumber: Worldbank).
Berlanjutnya kontraksi pada komoditas andalan Sulut tersebut menurunkan insentif perusahaan di industri pengolahan untuk meningkatkan produksinya.
Hal ini tercermin pertumbuhan produksi industri manufaktur besar dan sedang yang secara rata-rata triwulanan terkontraksi sebesar 8,52% (yoy) melambat dibandingkan rata-rata triwulanan tahun sebelumnya yang tumbuh sebesar 4,27% (yoy) (sumber:BPS).
Sementara itu, LU transportasi dan konstruksi menjadi LU utama Sulut Iainnya yang mengalami perlambatan.
LU transportasi pada tahun 2019 tercatat tumbuh sebesar 5,50% (yoy) melambat dibandingkan tahun 2018 yang tumbuh sebesar 7,87% (yoy).
Kenaikan tarif angkutan udara pada enam bulan pertama di tahun 2019 diperkirakan mengurangi insentif mobilisasi masyarakat menggunakan angkutan udara.
Hal ini tercermin dari jumlah penumpang di Sulawesi Utara yang mengalami kontraksi sebesar 16,48% (yoy) dan penurunan jumlah penerbangan sebesar 15,85% (yoy), meskipun terdapat upaya pemerintah dalam mengambil kebijakan menurunkan tarif batas atas pada bulan Juni 2019.
Adapun LU konstruksi tercatat tumbuh sebesar 5,81% (yoy) meskipun melambat dibandingkan tahun sebelumnya yang tercatat tumbuh 7,16% (yoy) seiring belum optimalnya realisasi belanja modal pemerintah baik yang bersumber dari APBD maupun APBN.
Sementara itu, kegiatan pembangunan dari pihak swasta juga diperkirakan melambat tercermin dari pengadaan semen di Sulawesi Utara yang terkontraksi sebesar 4,23% (yoy) melambat dibandingkan tahun sebelumnya yang tumbuh sebesar 19,16% (yoy).
“Di sisi Iain, LU utama Iainnya yaitu pertanian dan perdagangan mengalami penguatan sehingga dapat menahan pertumbuhan ekonomi Sulawesi Utara melambat lebih dalam,” ujar Kepala Perwakilan (KPw) Bank Indonesia (BI) Arbonas Hutabarat.
Perbaikan kinerja sub LU perikanan menjadi faktor pendorong kinerja LU pertanian. Hal ini tercermin dari dari nilai ekspor komoditas perikanan (SITC code: 03) yang tumbuh menguat sebesar 9,65% (yoy) pada tahun 2019 setelah tercatat terkontraksi sebesar 0,10% (yoy) pada tahun sebelumnya.
Sementara itu, sub lapangan usaha tanaman pangan dan perkebunan tahunan yang diperkirakan tumbuh relatif melambat seiring terjadinya penurunan produksi padi dan berlanjutnya tren negatif harga komoditas turunan kelapa menyebabkan LU pertanian tidak tumbuh lebih tinggi lagi.
Adapun LU perdagangan tercatat tumbuh sebesar 8,79% (yoy) pada tahun 2019 menguat dibandingkan tahun sebelumnya yang tercatat tumbuh sebesar 5,76% (yoy).
Menguatnya pertumbuhan perdagangan sejalan dengan menguatnya pertumbuhan Konsumsi Rumah Tangga dari sisi pengeluaran.
Selain itu, diadakannya pemilu legislatif dan eksekutif serentak di Juni 2019, penyelenggaraan iven-iven bertaraf nasional seperti OSN XVIII dan OSN Madrasah maupun yang bertaraf internasional seperti Tomohon International Flower Festival dan Archipelagic and Islands States Forum diperkirakan turut menjadi faktor pendorong pertumbuhan LU Perdagangan di tahun 2019.
Dari sisi pengeluaran, melambatnya perekonomian Sulut terutama disebabkan oleh ekspor yang melambat signifikan di tengah Konsumsi Pemerintah yang belum optimal.
Namun demikian, melambatnya impor di tengah penguatan Konsumsi Rumah Tangga dan Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB/lnvestasi) menjadi faktor penahan perlambatan pertumbuhan ekonomi Sulut yang lebih dalam.
Berlanjutnya tren negatif harga-harga komoditas dunia sebagai dampak perlambatan pertumbuhan ekonomi global menyebabkan ekspor Sulut tumbuh melambat cukup dalam di tahun 2019.
Ekspor barang dan jasa Sulawesi Utara tercatat tumbuh sebesar 0,54% (yoy) pada tahun 2019 melambat dibandingkan tahun 2018 yang tumbuh sebesar 12, 14% (yoy).
Tren negatif harga CNO menjadi disinsentif perusahaan-perusahaan untuk meningkatkan ekspor luar negeri Minyak Nabati dan Hewani yang menjadi komoditas ekspor utama Sulut dengan pangsa 58,6 % dari total ekspor Sulut pada tahun sebelumnya.
Nilai ekspor luar negeri minyak nabati dan hewani Sulut tercatat terkontraksi sebesar 41,25% (yoy) pada tahun 2019 lebih dalam dibandingkan kontraksi di tahun sebelumnya yang tercatat sebesar 16,23% (yoy).
Sebagai dampaknya nilai ekspor luar negeri Sulawesi Utara terkontraksi sebesar 21,14% (yoy).
Sementara itu, konsumsi pemerintah pada tahun 2019 tumbuh terbatas sebesar 2,08%(yoy) melambat dibandingkan tahun sebelumnya yang tercatat sebesar 6,10% (yoy).
Menurunnya tingkat realisasi APBD di tingkat Provinsi maupun Kab/Kota dan APBN di wilayan Sulawesi Utara pada tahun ini dibandingkan tahun lalu menjadi salah satu faktor penyebab konsumsi pemerintah relatif melambat pada tahun 2019.
Meskipun demikian, fenomena ini terjadi secara nasional dimana pertumbuhan komponen konsumsi pemerintah nasional tercatat tumbuh sebesar 3,25% (yoy) pada tahun 2019 melambat dibandingkan tahun sebelumnya yang tercatat tumbuh sebesar 4,89% (yoy).
“Berbeda dengan ekspor dan konsumsi pemerintah, penguatan komponen konsumsi rumah tangga dan investasi menjaga pertumbuhan ekonomi Sulut untuk tidak tumbuh melambat lebih dalam,” kata Arbonas.
Kenaikan indikator pendapatan seperti kenaikan gaji PNS, Gaji ke-13 dan ke-14 dan kenaikan UMR menjaga daya beli masyarakat dan ditransmisikan pada peningkatan konsumsi rumah tangga.
Hal ini tercermin dari data indeks keyakinan Konsumen Bank Indonesia yang secara rata-rata tumbuh kuat sebesar 6,40% (yoy) sepanjang tahun 2019. Penguatan Konsumsi rumah tangga juga didukung oleh penguatan kredit konsumsi yang pada 2019 tumbuh sebesar 7,97%(yoy) setelah pada tahun sebelumnya tumbuh sebesar 4,48% (yoy).
Sementara itu dari Sisi investasi, Pertumbuhan investasi tercatat sebesar 6,88% (yoy) menguat dibandingkan tahun sebelumnya yang tumbuh sebesar 4,65% (yoy).
Menguatnya pertumbuhan investasi di Sulawesi Utara pada tahun 2019 terutama bersumber dari Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) yang tumbuh tinggi pada tahun 2019.
Indikator investasi lainnya seperti nilai impor barang modal juga tercatat tumbuh kuat sebesar 20,43% (yoy) .
Ke depan, Bank Indonesia optimis pertumbuhan ekonomi Sulawesi Utara tumbuh positif dan cenderung menguat pada tahun 2020.
Harga komoditas utama yang mulai menunjukan tren positif sejak Oktober 2019 dan potensi penyesuaian kebijakan perikanan diperkirakan menjadi faktor pendorong kinerja LU pertanian dan industri pengolahan serta ekspor dari Sisi permintaan.
Sementara itu, kinerja transportasi diperkirakan akan menguat seiring adaptasi masyarakat terhadap range tiket pesawat dan peningkatan aksesibilitas di wilayah Sulawesi Utara.
