Bisnis dan Ekonomi

Ekspor Terkontraksi, Investasi Jaga Pertumbuhan Ekonomi Sulut Tidak Jatuh

Sementara itu, sub lapangan usaha tanaman pangan dan perkebunan tahunan yang diperkirakan tumbuh relatif melambat seiring terjadinya penurunan produksi padi dan berlanjutnya tren negatif harga komoditas turunan kelapa menyebabkan LU pertanian tidak tumbuh lebih tinggi lagi.

Adapun LU perdagangan tercatat tumbuh sebesar 8,79% (yoy) pada tahun 2019 menguat dibandingkan tahun sebelumnya yang tercatat tumbuh sebesar 5,76% (yoy).

Menguatnya pertumbuhan perdagangan sejalan dengan menguatnya pertumbuhan Konsumsi Rumah Tangga dari sisi pengeluaran.

Selain itu, diadakannya pemilu legislatif dan eksekutif serentak di Juni 2019, penyelenggaraan iven-iven bertaraf nasional seperti OSN XVIII dan OSN Madrasah maupun yang bertaraf internasional seperti Tomohon International Flower Festival dan Archipelagic and Islands States Forum diperkirakan turut menjadi faktor pendorong pertumbuhan LU Perdagangan di tahun 2019.

Dari sisi pengeluaran, melambatnya perekonomian Sulut terutama disebabkan oleh ekspor yang melambat signifikan di tengah Konsumsi Pemerintah yang belum optimal.

Namun demikian, melambatnya impor di tengah penguatan Konsumsi Rumah Tangga dan Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB/lnvestasi) menjadi faktor penahan perlambatan pertumbuhan ekonomi Sulut yang lebih dalam.

Berlanjutnya tren negatif harga-harga komoditas dunia sebagai dampak perlambatan pertumbuhan ekonomi global menyebabkan ekspor Sulut tumbuh melambat cukup dalam di tahun 2019.

Ekspor barang dan jasa Sulawesi Utara tercatat tumbuh sebesar 0,54% (yoy) pada tahun 2019 melambat dibandingkan tahun 2018 yang tumbuh sebesar 12, 14% (yoy).

Tren negatif harga CNO menjadi disinsentif perusahaan-perusahaan untuk meningkatkan ekspor luar negeri Minyak Nabati dan Hewani yang menjadi komoditas ekspor utama Sulut dengan pangsa 58,6 % dari total ekspor Sulut pada tahun sebelumnya.

Nilai ekspor luar negeri minyak nabati dan hewani Sulut tercatat terkontraksi sebesar 41,25% (yoy) pada tahun 2019 lebih dalam dibandingkan kontraksi di tahun sebelumnya yang tercatat sebesar 16,23% (yoy).

Sebagai dampaknya nilai ekspor luar negeri Sulawesi Utara terkontraksi sebesar 21,14% (yoy).

Sementara itu, konsumsi pemerintah pada tahun 2019 tumbuh terbatas sebesar 2,08%(yoy) melambat dibandingkan tahun sebelumnya yang tercatat sebesar 6,10% (yoy).

Menurunnya tingkat realisasi APBD di tingkat Provinsi maupun Kab/Kota dan APBN di wilayan Sulawesi Utara pada tahun ini dibandingkan tahun lalu menjadi salah satu faktor penyebab konsumsi pemerintah relatif melambat pada tahun 2019.

Meskipun demikian, fenomena ini terjadi secara nasional dimana pertumbuhan komponen konsumsi pemerintah nasional tercatat tumbuh sebesar 3,25% (yoy) pada tahun 2019 melambat dibandingkan tahun sebelumnya yang tercatat tumbuh sebesar 4,89% (yoy).

“Berbeda dengan ekspor dan konsumsi pemerintah, penguatan komponen konsumsi rumah tangga dan investasi menjaga pertumbuhan ekonomi Sulut untuk tidak tumbuh melambat lebih dalam,” kata Arbonas.

Kenaikan indikator pendapatan seperti kenaikan gaji PNS, Gaji ke-13 dan ke-14 dan kenaikan UMR menjaga daya beli masyarakat dan ditransmisikan pada peningkatan konsumsi rumah tangga.

Hal ini tercermin dari data indeks keyakinan Konsumen Bank Indonesia yang secara rata-rata tumbuh kuat sebesar 6,40% (yoy) sepanjang tahun 2019. Penguatan Konsumsi rumah tangga juga didukung oleh penguatan kredit konsumsi yang pada 2019 tumbuh sebesar 7,97%(yoy) setelah pada tahun sebelumnya tumbuh sebesar 4,48% (yoy).

Sementara itu dari Sisi investasi, Pertumbuhan investasi tercatat sebesar 6,88% (yoy) menguat dibandingkan tahun sebelumnya yang tumbuh sebesar 4,65% (yoy).

BeritaManado.com: Berita Terkini Kota Manado, Sulawesi Utara