
Manado—Jhon Dumais meminta agar masalah penertiban baliho oleh Pemkot Manado beberapa waktu lalu tidak dipolemik dan politisasi. Karena menurutnya, Paskah juga momentun penghormmatan dan taat aturan dari Yesus Kristus yang mau berkorban dan menghormati aturan dari Allah.
“Stop polemikkan dan politisasi masalah penertiban baliho, apalagi mengait-ngaitkan dengan masalah agama,” tegas Dumais, Jumat (13/4).
Politisi dari Partai Demokrad ini juga mengatakan, seyogyanya dapat dibedakan penegakan aturan dan wilayah politirasi. Jangan sampai hanya masalah kepentingan yang sudah menjurus ke masalah SARA dan menjadikan moment penertiban baliho sebagai ajang untuk menghasut.
“Masalah ini sangat kental dengan aroma dan tendensi politik. Jadi jangan lagi dipolemikkan masalah tersebut,” kata Koordinatot Bidang Pemerintahan dan Humas DPD Partai Demokrad Sulut ini.(en)

Waraney, you are exaggerating….. Saya bukan tidak pernah beribadah di daerah2 yg mayoritas agama lain…
Masalah baliho tidak ada kaitannya dengan kebebasan beragama, tapi lebih pada estetika.
Om jon dumais kita bodok mara ngana lebeh bodok ngana bilang baliho paskah tidak usah dipolitikkan “kita harus tau yang selalu berbicara jangan dipolitikkan bukan masyarakan tapi pemeritah dan dpr ,jadi kita masyarakat tidak tau itu politik yang kita tau paskah jadi. Pemeritah sendiri yang selalu arogan yang tidak tau penempatan diri kepe msyarakat ,kita menyesalakan kenapa disaat acara paskah dicabut !!!! Apa bedanya dengan baliho walikota ada dimana mana apakah itu semua mampunyai ijin ?” jika baliho paskah tidak diturunkan mungkin masalah ini tidak akan terjadi jadi kesimpulannya pemerintah yang mencari masalah dengan masyarakat yang mayoritas kriten jadi kamu yang tidak pantas jadi dewan “”alasanya kamu tidak bisa membawa aspirasi “”dan tidak pantas mendapat gaji dari rakyat atau apa kamu tidak tau kamu digaji rakyat manado”””lebe bae ngana pigi skolah ulang di TK
yang kami nilai dari penyampaian sdr. Jhon Dumais adalah : 1. beliau betul-betul ingin membela ketua partainya 2. yang telah disampaikannya tentu memberikan perhatian kepada bos nya. 3. saudara Jhon sudah bagus memberikan dukungan supaya bosnya tau dia ada bersama sama dengan bos nya. 4. disisi lain saudara Jhon ingin membuat dan menambah opini agar supaya bosnya itu terus di hajar oleh lawan politik nya. 5. keputusan yang diambil walikota di tunggangi oleh saudara Jhon. 6. orang manado bilang itu artinya mo ambil muka sama bos. 7. masih ada lagi tapi nanti kami lanjutkan.
Bukan “Pembaca”, tapi jeritan minoritas Kristen yang selalu ditindas, dilempari batu, dilecehkan, diejek, dimaki, oleh mereka yang menyebut diri “mayoritas” di NKRI berdasar Pancasila dan Pluralisme, sementara pihak penegak hukum cenderung membiarkan. Kalau “Pembaca” pernah merasakannya secara fisik berulang-ulang, mungkin “Pembaca” dapat memahami bagaimana dak-dik-duk dan galaunya hati beribadah di tengah2 situasi seperti ini, yang sulit dibayangkan mereka di Manado, yang dapat beribadah dengan hati damai. Untung saja Tuhan Yesus tidak pernah meninggalkan kami yang tinggal di perbatasan Jawa Barat – Banten. Walaupun dalam tekanan, pekabaran Injil jalan terus. Meski demikian, tetap saja menyakitkan hati membaca perilaku Kepala Satpol PP yang notabene Kristen tetapi kelakukannya seperti Firaun Mesir!
yaaaelllaaah…kiapa lei ini Jhon Dumais so tambah biongonces hahahaha
Waraney pe komentar benar2 menggambarkan Kristen fundamentalist….. hehehe….
Setuju Bung Pemuda Demokrat. Si Dumais itu mestinya diajak menyaksikan bagaimana Jemaat Kristen di Gereja Yasmin Bogor terus-menerus dilecehkan para Satpol PP + massa (dengan alasan peraturan). Maka kalau di Manado saja yang dikenal mayoritas Kristen, baliho Paskah pun tidak dihargai (dengan alasan peraturan), bagaimana kita2 ini, umat Kristen di wilayah mayoritas NonKristen disuruh memahami ketololan Satpol Manado (yang konon bertindak atas nama peraturan) itu? Si Dumais + Satpol PP Manado benar2 picik dan tidak berwawasan sama sekali! Kalau manusia2 dungu seperti ini tinggal di Yasmin Bogor, maka akan terjadi “jeruk makan jeruk”!!!
Bang… Jhon Dumais… sudah jo jang maso campur masalah Baliho Paskah di Manado, urus jo aspirasi masyarakat di Bitung, jang cuma beking berita bagus soal reses Deprov Sulut di Bitung, mar kenyataan aspirasi masih pilih kasih. So dapa lia kwa warna langit & laut sama… Jadi, sebetulnya yg ciptakan politisasi itu ug beking polemik. So bagitu noh, kalo sama warna ja baku bela deng baku sambunyi salah. Asal inga, torang biar satu warna mar ni mau ja belah hal-hal yang salah, apalagi menyinggung perasaan so menyeret Agama deng Sara.
Bodoh! Masalah baliho Paskah adalah masalah kebebasan beragama! Dumais, dasar tolol kamu!