
Minsel, BeritaManado.com – Gencarnya pemerintah pusat mengucurkan anggaran untuk bantuan penanggulangan pandemi COVID-19, ternyata ada salah satu Desa di Kabupaten Minahasa Selatan (Minsel) dihebokan dengan isu tidak menyenangkan.
Tepatnya di Desa Tokin Baru Kecamatan Motoling menguak isu dugaan politisasi Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang dilakukan oleh oknum Pelaksana Tugas (Plt) Hukum Tua (Kumtua).
Saat ditemui BeritaManado.com di salah satu Puskesmas Kecamatan Motoling Timur, Plt Kumtua Deisy Mundung menjelaskan untuk isu yang telah beredar di kalangan publik, baik itu status di media sosial (Medsos) maupun dari mulut ke mulut warga,
menurutnya tidak benar.
Ia juga membantah pemerintah desa tidak pernah mengintimidasi warga dalam kaitannya penyaluran BLT harus mendukung salah satu bakal calon bupati dan wakil bupati atau harus memasang atribut partai tertentu agar bisa menerima bantuan tersebut.
“Untuk penyaluran BLT, kami selalu mengikuti sesuai mekanisme dan aturan yang berlaku. Mekanismenya dimulai dari pengusulan nama dari kepala-kepala jaga dan dibahas dalam musyawarah desa bersama pemerintah desa, BPD dan relawan serta unsur toko agama dan tokoh masyarakat,” tutur Deisy, Jumat (22/5/2020).
Menariknya pernyataan tersebut sangat berbeda dengan apa yang disampaikan salah satu warga desa setempat yang namanya tidak mau dipublikasikan saat dihubungi melalui via telepon.
“Memang pada waktu itu ada informasi yang saya dengar dan lihat ada panji partai PDIP yang mulai diturunkan dan saya langsung bertanya kenapa diturunkan? Mereka menjawab panji partai diturunkan karena ada perangkat desa yang mengatakan jika diturunkan akan mendapatkan BLT. Salah satunya yang sudah diturunkan adalah tetangga saya dengan modus yang sama” jelas warga tersebut
Dikatakannya juga, ada bantuan lain yang telah disalurkan pemerintah desa tidak diberikan secara merata.
“Ada bantuan yang saya terima berbeda dengan masyarakat lain. Saya hanya dapat bantuan 5 kilogram beras di kantong plastik hitam sedangkan yang lain terima bantuan beras dan makanan lainnya pada kemasan zak lebih besar berwarna kuning. Sehingga saya beranggapan ini tidak adil,” keluhnya.
(RonaldKalalo)
