
Jakarta, BeritaManado.com — Di bawah langit Indonesia yang satu, tempat azan dan lonceng gereja sama-sama menjulang doa ke hadirat Tuhan, semangat kebangsaan kembali diteguhkan.
Dalam suasana penuh persaudaraan, keluarga besar Gerakan Kristiani Indonesia Raya (GEKIRA) bersilaturahmi ke Menteri Haji dan Umrah yang juga Ketua Umum Gerakan Muslim Indonesia Raya (GEMIRA) Mochamad Irfan Yusuf yang digelar di kediamannya, Menteng, Jakarta Pusat (26/2/2026).
Wakil Ketua Umum PP GEKIRA, Melki Suawah turut serta dalam kunjungan tersebut.
Ketua Umum GEKIRA, Nikson Silalahi, menyampaikan bahwa pembentukan Kementerian Haji adalah kebijakan yang sangat baik dan mencerminkan kesungguhan negara menghadirkan pelayanan terbaik bagi umat Muslim.
“Kampung Haji adalah wujud perhatian pemerintah, tanda kehadiran negara yang nyata dan dirasakan umat. Sebagai orang Kristiani, kami turut berbangga dan bersyukur. Ketika saudara kami dilayani dengan baik, di situlah Indonesia dimuliakan,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Nikson juga menegaskan kembali bahwa GEKIRA dibentuk oleh Prabowo Subianto dan Hashim Djojohadikusumo sebagai sayap perjuangan kebangsaan, yang merangkul umat Kristiani untuk ambil bagian aktif dalam mendukung cita-cita besar Partai Gerakan Indonesia Raya.
“GEKIRA lahir dari semangat persatuan, agar umat Kristiani tidak berjalan sendiri, tetapi bersama-sama membangun bangsa dalam rumah besar Indonesia Raya,” tegasnya.
Sekretaris Jenderal GEKIRA Yeremias Ndoen menambahkan bahwa kehadiran GEKIRA adalah bagian dari upaya menampilkan wajah Gerindra yang sungguh-sungguh nasionalis.
“Silaturahmi ini bukan sekadar pertemuan, melainkan jembatan kolaborasi. Nasionalisme tidak boleh kering dari nilai iman, dan iman tidak boleh tercerabut dari cinta tanah air,” ujarnya.
Sementara itu, Menteri Haji menyampaikan bahwa Gerakan Muslim Indonesia Raya dan GEKIRA merupakan sayap keagamaan partai yang berfungsi memastikan kader-kader Gerindra beragama secara sungguh-sungguh sesuai keyakinan masing-masing, sekaligus tetap teguh dalam semangat kebangsaan. Ia menegaskan keterbukaannya untuk kolaborasi lintas iman sebagai fondasi politik yang beradab.
Menteri Haji juga menggarisbawahi pentingnya kerja sama ini dalam menghadapi tantangan kebangsaan, termasuk keberadaan kelompok-kelompok garis keras yang berpotensi merusak tenun keberagaman.
“Semoga kolaborasi ini menjadi cahaya yang meredupkan intoleransi, memperkuat moderasi, dan menjaga keutuhan bangsa,” ujarnya.
Pertemuan ini menjadi penanda bahwa di atas segala perbedaan, Indonesia berdiri di atas fondasi Pancasila. Bahwa kebangsaan bukan sekadar slogan, melainkan kerja nyata merawat harmoni.
Bahwa iman dan nasionalisme bukan dua kutub yang berseberangan, melainkan dua sayap yang mengangkat Indonesia menuju masa depan yang adil, makmur, dan bermartabat.
Indonesia Raya tidak dibangun oleh satu suara saja, melainkan oleh paduan doa dan karya seluruh anak bangsa.
Dalam semangat itulah, GEKIRA, GEMIRA, dan Kementerian Haji melangkah bersama — menjaga persatuan, merawat kebhinekaan, dan menguatkan Indonesia untuk selama-lamanya.
(***/srisurya)
