MANADO – Pengembangan pengolahan kopra putih di Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) belum maksimal hingga kini, terkendala keterbatasan tungku yang merupakan peralatan mengolah buah kelapa menjadi kopra putih.
“Dibutuhkan ribuan tungku kopra putih, tetapi yang mampu diadakan pemerintah daerah tidak sampai seratus, karena itu pengembangan pengolahan komoditas tersebut belum optimal,” kata Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sulut, Sanny Parengkuan, Rabu (12/10).
Sanny mengatakan, kopra putih menjadi salah satu produk turunan kelapa yang sebenarnya paling menarik dikembangkan di saat krisis pangan mendera dunia, karena komoditas ini menjadi bahan baku pangan.
“Kalau diolah menjadi kopra asapan, hasilnya berupa minyak kelapa kasar, dimana penggunaannya selain bahan baku produk pangan juga untuk bahan bakar alternatif,” kata Sanny.
Tetapi untuk kopra putih, kata Sanny, murni sebagai bahan baku pangan sebagaimana yang sudah banyak diujicobakan selama ini.
“Kopra putih dapat diolah menjadi berbagai jenis produk pangan, yang sangat dibutuhkan masyarakat, karena itu menjadi cita-cita pemerintah daerah ke depan dapat memproduksi komoditas ini lebih banyak,” kata Sanny.
Pemerintah daerah berharap pemerintah pusat, dalam hal ini Kementerian Perindustrian memberi alokasi dana cukup untuk pengembangan kopra putih di tahun-tahun mendatang.(niel)
