Berita Utama

Dilema Kursi DPR Menurut Tantowi Yahya: Antara Suara Rakyat dan Partai, serta Seni Perimbangan

Dilema Kursi DPR Menurut Tantowi Yahya: Antara Suara Rakyat dan Partai, serta Seni Perimbangan
Mantan anggota DPR RI, Tantowi Yahya. (instagram/tantowiyahyaofficial)

Jakarta, BeritaManado.com — Menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Republik Indonesia itu bukan sekadar jabatan mentereng dan terhormat.

Lebih dari itu, ternyata itu adalah sebuah medan perjuangan yang luar biasa rumit.

Setidaknya, itulah gambaran jujur yang diungkapkan oleh mantan anggota DPR RI, Tantowi Yahya.

Dalam sebuah podcast Helmy Yahya Bicara di YouTube, Tantowi yang punya pengalaman dua periode di Senayan sebelum jadi Duta Besar, blak-blakan soal seluk-beluk dunia legislatif ini.

Menurutnya, untuk bisa jadi legislator di Indonesia, seseorang butuh “seni” tersendiri.

Seni menyeimbangkan dua kepentingan yang sering kali justru saling bertolak belakang.

“Jadi anggota DPR di Indonesia itu sangat sulit,” kata Tantowi lugas, seperti dilansir dari Suara.com jaringan BeritaManado.com, Selasa (1/7/2025).

Kesulitan itu muncul karena anggota dewan harus menghadapi dua tuntutan sekaligus.

“Karena kita harus mewakili dua kelompok suara, satu suara rakyat yang memilih kita, satu suara partai yang mengusung kita,” tandasnya.

Dalam praktiknya, Tantowi menyoroti satu fenomena yang cukup sering terjadi, yakni “tak jarang suara partai itu lebih kencang daripada suara rakyat.”

Ini jelas menciptakan dilema etis dan politis yang pelik bagi setiap anggota dewan.

Mereka dituntut untuk loyal pada konstituen, tapi di sisi lain juga harus patuh pada arahan dan kebijakan partai.

Tantowi memberikan perbandingan menarik dengan sistem legislatif di Selandia Baru.

Di sana, ketika seseorang terpilih jadi anggota dewan, fokus utamanya murni memperjuangkan kepentingan rakyat yang memilihnya.

“Di New Zealand, ketika dia menjadi anggota dewan, dia hanya memperjuangkan suara rakyat yang memilih dia,” ujar Tantowi, menjelaskan bahwa mereka benar-benar seorang “wakil rakyat” sejati.

Kontras dengan itu, di Indonesia, anggota DPR harus memainkan “seni perimbangan” tadi.

“Itu seni perimbangan, bagaimana kita membela rakyat, tapi juga bagaimana kita mengikuti arahan partai,” pungkasnya.

Konsekuensi jika gagal menyeimbangkan ini pun, kata dia, tidak main-main.

BeritaManado.com: Berita Terkini Kota Manado, Sulawesi Utara