
Manado, BeritaManado.com – Aktivis muda Combyan Lombongbitung mengecam dugaan terjadinya pungutuan liar (Pungli) di Pelabuhan Manado.
Menurut Combyan saat diwawancarai BeritaManado.com mengatakan, pungutan sejumlah rupiah di loket masuk Pelabuhan Manado patut dipertanyakan serta dijelaskan, karena dalam hal ini, masyarakat belum mengetahui secara gamblang maksud serta tujuan dari permintaan uang sebagai boarding tiket tersebut.
“Berarti juga kan belum ada sosialisasi yang menyeluruh, sementara di pelabuhan proses ini sudah diberlakukan dan pasti muncul tanda tanya besar di pengguna jasa karena ini merupakan hal yang sangat sensitif. Kalau pun ada pihak yang menganggap nominal yang diminta tak seberapa hanya dua ribu rupiah saja, jangan begitu kawan biar bagaimana pun itu tetap uang dan tak semua orang berkecukupan saat dalam perjalanannya,” ujar Combyan yang juga Mantan Presiden Mahasiswa Unsrat, Kamis (2/4/2020).
Lanjut Combyan, setahunya dalam surat edaran Kementerian Perhubungan tentang Penerapan e-Ticketing Kapal Penumpang, jelas disebutkan bahwa biaya penerapan e-Ticketing termasuk dalam biaya tarif penumpang dan tidak membebankan masyarakat.
“Berarti jelas instruksi dari pusat untuk pelayanan ticketing online termasuk dalam tarif penumpang, ditambah lagi ada point tidak membebankan penumpang saat dalam tujuan perjalanan. Jadi tak ada alasan apapun untuk membebankan masyarakat atau ada pungutan lainnya sekalipun itu misalnya untuk alasan pembangunan dan pengembangan,” ungkap Combyan aktivis muda yang dikenal sangat ramah dengan masyarakat.
Selanjutnya Combyan mengatakan, yang dirinya ketahui ada perencanaan dan pengaturan pembiayaan tersendiri untuk pembangunan atau renovasi pelabuhan, jadi jangan sampai hanya alasan melempar opini, kalaupun benar demikian cobalah pemerintah untuk lebih menjelaskan dan transparan tentang hal itu.
“Jadi dalam hal ini, jangan bikin keadaan lebih ribet. Kasihan orang-orang yang ingin pulang kampung, ingin berlindung menambah kekuatan menghadapi wabah virus atau juga ingin mudik saat lebaran kong doi pas-pasan bisa-bisa saat sampai di pelabuhan tujuan mo bajalang kaki dorang pigi dirumah, jadi jangan beking masyarakat lebe terbeban,” ucap aktivis Lulusan Fisip Unsrat.
Combyan Berharap, Pemerintah Kota Manado dapat lebih aktif dan progresif di lapangan mengawasi pelayanan publik.
“Jika benar ada pungutan tak lazim di pelabuhan laut Manado karena itu bisa jadi akan diduga pungutan liar, jangan sampai Pemkot menunggu ada protes atau bahkan adu mulut petugas dan masyarakat baru bergerak karena bisa lebih kacau keadaannnya nanti mengingat ada himbauan pemerintah untuk tidak buat kerumunan. Itu sekedar saran dari saya memperhatikan sekarang dalam situasi banyak masyarakat akan pulang kampung atau mudik,” cetus mantan aktivis ini.
Combyan menambahkan, dalam situasi yang sekarang ini, Indonesia sedang dalam masalah menghadapi penyebaran virus corona, jangan tambah-tambah buat masalah lagi.
“Jika kementerian bahkan sampai presiden juga mengetahui hal-hal yang tak wajar terjadi di lapangan pasti mereka akan murka. Torang jalan apa adanya saja kalaupun memang akan diberlakukan beberapa kebijakan baru yah di informasikan dulu seperti apa bentuknya agar bisa ditanggapi dan koordinasi bersama masyarakat. Selanjutnya kebijakan pun perlu disosialisasikan barulah diberlakukan,” pungkasnya, dengan menutup kata Semoga Tuhan Yang Maha Esa selalu menjaga Provinsi Sulut khususnya Kota Manado.
(HardinanSangkoy)
