Nasional

Catatan Markus Wauran: Nordstream Bocor, Sabotase, oleh Siapa?

Bagian NSGP di daratan Rusia mulai dibangun pada Desember 2005 di kota Babayevo (Oblast Vologda) dan selesai pada 2010. Bagian ini membentang dari Gryazovets ke Vyborg di wilayah Leningrad. Panjangnya pipa mencapai 917 kilometer. Bagian NSGP di daratan Rusia juga memasok gas alam ke wilayah barat laut Rusia (St Petersburg dan Oblast Leningrad). Bagian offshore di Laut Baltik Bagian NSGP offshore di Laut Baltik membentang dari Vyborg di Teluk Portovaya Greifswald di Jerman, dengan total panjang 1.196 kilometer.

Pipa ini terbagi ke beberapa wilayah dan teritorial beberapa negara yakni lebih dari 22 kilometer di dalam perairan teritorial Rusia dan 96 kilometer di zona ekonomi eksklusif Rusia.
Setelah itu, 369 kilometer di zona ekonomi eksklusif Finlandia, 482 kilometer di zona ekonomi eksklusif Swedia, 37 kilometer di zona ekonomi eksklusif Denmark, 112 kilometer di zona yang disengketakan antara Polandia dan Denmark, 33 kilometer di zona ekonomi eksklusif Jerman dan 33 kilometer di dalam perairan teritorial Jerman.

Manfaat proyek NSGP Proyek ini sangat memangkas biaya transportasi dan tidak terlalu banyak melewati negara-negara lain. Rusia dapat mengirim gasnya tanpa melalui Polandia, Lituania, Estonia, Belarusia, dan Ukraina.

Sehingga, NSGP meminimalkan risiko kedaulatan yang terlibat dalam proyek lintas batas tersebut. Di sisi lain, negara-negara Skandinavia juga mendapatkan gas alam melalui proyek NSGP. Proyek ini juga memastikan pasokan gas alam yang dapat diandalkan ke Eropa Barat, Rusia barat laut, dan eksklave Kaliningrad.

Dikutip dari BBC, Nord Stream 2 adalah sambungan pipa bawah laut membentang dari pesisir Rusia di dekat St Petersburg hingga pesisir Lubmin di Jerman. Proyek senilai USD 10,6 miliar (setara dengan Rp 152 triliun) itu membentang sepanjang 1.230 km di bawah Laut Baltik. Nord Stream 2 ini membentang secara paralel dengan pipa gas alam yang sudah lebih awal tersedia(Nord Stream 1).

Bersama dengan pendahulunya, kapasitas gas alam yang dikirim bisa mencapai 110 miliar kubik meter per tahun, alias dua kali lipat lebih besar jika dibandingkan dengan hanya satu sistem. Nord Stream 2 dimiliki oleh raksasa gas alam Rusia, Gazprom. Setengah dari biaya konstruksi pipa gas alam ini dibayar oleh Gazprom, sedangkan sisanya oleh perusahaan-perusahaan energi Eropa seperti Shell dan ENGIE milik Prancis.

Konstruksi pipa sudah dimulai sejak 2018 lalu dan rampung pada September 2021. Kendati demikian, hingga saat ini Nord Stream 2 masih belum beroperasi. Otoritas energi Jerman belum memberikan sertifikat operasional atas Nord Stream 2 akibat terjadinya Perang Rusia-Ukraina.

Seberapa Penting Nord Stream 2? Seperti sudah disebutkan sebelumnya, Eropa sangat bergantung pada gas alam terutama di musim dingin. Ini mengingat gas alam digunakan dalam aspek kehidupan rakyat, termasuk sebagai penghangat di rumah-rumah warga. Dikutip dari Deutsche Welle, menurut data IHS Markit, Jerman hampir sepenuhnya bergantung pada impor gas alam. Pada 2020 saja, Rusia menyumplai hingga lebih dari setengah total pasokan gas Jerman.

Sedangkan Rusia memiliki sumber daya gas yang sangat berlimpah. Eropa merupakan pasar besar Gazprom. Menurut BBC, 40% dari kebutuhan gas negara-negara Uni Eropa bersumber dari Rusia, sedangkan sisanya disuplai oleh Norwegia dan Aljazair. Gas alam menjadi sangat krusial bagi negara-negara Eropa yang mulai bertransisi menuju energi bersih. Hadirnya Nord Stream 2 akan menjadi angin sejuk bagi pasokan gas Jerman. Pipa ini juga akan mendistribusikan gas alam ke Austria, Italia, serta negara-negara Eropa Tengah dan Timur.

Ini juga akan memberikan keuntungan besar bagi Gazprom Rusia. Sebab, mereka akan bisa mengirimkan gas alam ke sistem Eropa lewat Nord Stream 2, tanpa perlu menggunakan sistem pipa daratan melalui Ukraina dan Polandia. Kualitas sistem pipa daratan itu diketahui mulai menurun. Selain itu, Polandia dan Ukraina menagih biaya transit gas alam yang tinggi, sehingga penggunaan Nord Stream 2 pastinya akan menghemat biaya. Deutsche Welle melaporkan, sejak awal perumusannya, Nord Stream 2 kerap diprotes oleh mitra-mitra Jerman.

Bahkan, Amerika Serikat sempat melobi eks Kanselir Jerman Angela Merkel untuk mundur dari kontrak pembangunan. Menurut mereka, Nord Stream 2 akan membuat Eropa terlalu bergantung pada gas alam dari Rusia. Jika sewaktu-waktu Barat dan Rusia berselisih, ada kemungkinan Moskow memutus distribusi gas alam ke Eropa. Ini tentunya akan sangat merugikan. Ukraina dan Polandia, sebagai negara yang dilewati oleh pipa gas alam daratan Rusia, turut menolak keras proyek raksasa ini.

Gazprom Rusia tidak perlu lagi menggunakan sistem daratan jika Nord Stream 2 sudah beroperasi. Dengan ini, Ukraina dan Polandia akan kehilangan pemasukan dari biaya transit yang dibayarkan Rusia. Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menyebut Nord Stream 2 sebagai “senjata politik yang berbahaya. Namun, Jerman terus membela proyek ini dan mengatakan, pipa gas alam ini sepenuhnya berkaitan dengan isu-isu perekonomian.

Terkait kebocoran Nord Stream 1 dan 2, maka kedua belah pihak, yaitu Rusia dan NATO (Uni Eropa dan Amerika Serikat) saling tuding sebagai dalang dari peristiwa ini. NATO menduga kuat kebocoran itu akibat sabotase. NATO juga mengancam bakal menindak pihak yang diduga melakukan sabotase hingga memicu kebocoran pipa gas Nord Stream. Setiap serangan yang disengaja terhadap infrastruktur penting Sekutu, akan ditanggapi dengan tanggapan bersama dan tegas, bunyi pernyataan NATO yang dikutip Reuters, Kamis (29/9/2022).

Melalui pernyataan resminya, NATO menegaskan bahwa jalur pipa gas yang menghubungkan Rusia dan Eropa itu melewati negara anggota mereka, termasuk Denmark. Beberapa pejabat AS mengatakan bahwa hanya Rusia yang punya alasan dan kemampuan untuk merusak jalur pipa gas tersebut. Sebaliknya Rusia menuding kebocoran yang memuntahkan gas ke Laut Baltik dari pipa Nord Stream ke Jerman merupakan hasil dari terorisme yang disponsori negara.

Secara terus terang Rusia menuduh Amerika Serikat sebagai dalang dugaan kebocoran ini. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova mengatakan kesimpulan ini didasarkan pada pernyataan Joe Biden pada 7 Februari 2022 atau sebelum invasi Rusia ke Ukraina, bahwa Nord Stream akan tamat jika Rusia menginvasi Ukraina.Lebih lanjut juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan, “ini terlihat seperti aksi terorisme, mungkin di tingkat negara.

“Sangat sulit untuk membayangkan bahwa tindakan terorisme semacam itu bisa terjadi tanpa keterlibatan suatu negara,” dikutip dari Reuters, Jumat, 30 September 2022.

Rusia menyebut Amerika Serikat mengambil keuntungan atas masalah ini. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia mengatakan bahwa Washington dapat meningkatkan penjualan gas alam cair (LNG) jika jaringan pipa tidak digunakan. Silang pendapat semakin meruncing ini didukung oleh beberapa argumen yang didasarkan pada analisa sesuai fakta yang diklaim oleh kedua belah pihak.

Berikut ini beberapa Analisa yang disampaikan oleh Rusia bahwa dalang dari semua ini adalah Amerika Serikat, yang dirangkum dari berbagai sumber yaitu:

BeritaManado.com: Berita Terkini Kota Manado, Sulawesi Utara