Jokowi membuat para pemimpin negara-negara anggota mengadopsi ASEAN OUTLOOK tentang Indo-Pasifik yang dirancang oleh Indonesia dan mempertahankan posisi netral kelompok regional ditengah meningkatnya persaingan antara Cina dan AS untuk supremasi di negara-negara wilayah tersebut.
Dalam periode kedua, program pembangunan Jokowi tidak berjalan sebagaimana yang diharapkan karena kondisi obyektif gangguan pandemi virus corona.
Akibat virus corona yang melanda dunia, maka ekonomi dunia termasuk Indonesia menjadi lesu dengan segala dampak yang kita rasakan saat ini.
Ditengah upaya Jokowi untuk mengatasi covid 19 dan pemulihan ekonomi, saat ini muncul berbagai beban yang menjadi ujian berat bagi Jokowi yang menjadi sorotan rakyat al pemberantasan korupsi, apalagi dengan pernyataan Menko Polhumkam Prof. Machmud M.D. yang mengatakan bahwa korupsi saat ini sudah jauh lebih gila dari jaman orde baru dan meluas.
Indonesia sudah masuk dalam perangkap kapitalisme, jauh dari pelaksanaan pasal 33 UUD Negara RI tahun 1945.
Disisi lain, maraknya berbagai pihak memunculkan Capres dan Cawapres untuk pemilu 2024, yang semuanya bisa berdampak pada dukungan pemerintahan Jokowi sampai 2024.
Juga tantangan terberat bagi Jokowi ialah adanya mafia diberbagai bidang yang didukung oleh kelompok oligarki yang dimainkan oleh sementara pelaku dalam berbagai lembaga Negara.
Kita tidak bisa juga persalahkan para mafia ini.
Mereka hidup dan berkembang karena kolaborasi dengan oknum-oknum pemerintah.
Untuk menghadapi semua tantangan ini, Jokowi jangan hanya berharap dukungan pada lembaga-lembaga resmi yang ada, karena rawan dalam kepemimpinannya apalagi dukungan dari kelompok yang bersifat taktis bukan strategis, sewaktu-waktu bisa berubah.
Di Indonesia ini orang baik jumlahnya sangat dominan, tapi bersikap diam dan pasif.
Mereka tersebar di lembaga-lembaga keagamaan seperti NU, Muhammadiyah, PGI, KWI, PHDI, WALUBI.
Demikian juga di parpol, pengusaha, pers, para akademisi/intelektual, GENERASI MUDA, dll. Jika Jokowi mampu mmenggerakkan dan mempersatukan orang-orang baik ini muncul dalam permukaan, disamping dukungan TNI dan POLRI, untuk mendukung kepemimpinannya yang memihak rakyat secara terbuka, diyakini Jokowi mampu menghadapi semua tantangan tersebut.
Kita berharap Jokowi tidak akan mengalami nasib seperti Soekarno, Soeharto dan Habibie yang memprihatinkan dalam mengakhiri masa jabatannya.
Kalau itu terjadi (kita berharap tidak akan terjadi), maka untuk Presiden-presiden berikutnya menjadi trauma bagi rakyat Indonesia untuk memilih Presiden yang lahir bulan Juni, karena fakta membuktikan Presiden yang lahir bulan Juni, bukan hanya membawa berkah bagi bangsa, tapi juga petaka.
Penulis:
Markus Wauran
Wakil Ketua Dewan Pendiri HIMNI.
(***/rds)
Baca juga:
