
Manado – Objek wisata taman laut Bunaken yang telah menjadi icon pariwisata Sulawesi Utara, kini berada diambang kehancuran.
Ini dikarenakan selain diterpa material tanah akibat banjir bandang beberapa waktu lalu, kini ada sejumlah warga yang mengaku bahwa tanah dilokasi objek wisata dengan luas 17.800 hektar tersebut merupakan milik leluhur mereka, hal ini tentu akan berdampak negatif terhadap aktivitas kunjungan wisatawan baik domestik maupun manca negara.
Wakil Ketua HPWLB Pdt Billy Johanes angkat bicara, saat menyampaikan tuntutan masyarakat peduli bunaken dan dalam rangka kepedulian objek wisata pulau Bunaken, maka selaku masyarakat dan organisasi pelestarian bunaken menyampaikan tuntutan untuk segera ditindaklanjuti oleh Pemprov Sulut.
“Tuntutan tersebut yaitu agar Pemprov segera menyelesaikan tanah Bunaken sesuai aturan dan ketentuan yang berlaku. Sehingga tidak meresahkan masyarakat dan berdampak pada menurunnya kunjungan wisatawan dan pendapatan ekonomi lokal,” kata Billy.
Dia menambahkan agar Pemprov dan DPRD Sulut memberi perhatian khusus terhadap pembangunan di Pulau Bunaken. Pemerintah dan instansi terkait diminta segera mengadakan bersih-bersih pulau yang menjadi kebanggaan warga “Nyiur Melambai”.
Dia juga menuntut, agar Gubernur dan Wakil Gubernur dalam waktu 1 minggu segera meninjau lokasi untuk melihat langsung keadaan dan masalah yang ada.
Baca juga:
- Masalah Bunaken Jadi Perhatian Pemprov Sulut
- Terkait Bunaken Kotor, Komisi 4 Akan Panggil DPTNB
- Banjir Manado, Terumbu Karang di Bunaken Terancam Mati
- Museum di Taman Laut Bunaken Terbakar
- Pendeta Astried: Masih dalam Penyelidikan
- Lagi, Warga Bunaken Pertanyakan Suplai Air Bersih
- Sulitnya Air Bersih di Bunaken Perlu Perhatian Pemerintah
- Mau ke Bunaken? Baca Sejarahnya di Sini

Kehancuran bunaken terjadi dalam 10 tahun terakhir ini. pembangunan yang tak trkontrol dan lemahnya pengawasan lingkungan adalah penyebab utama. Pemda adalah yg bertanggung jawab atas kehancuran alam ini!!!!