
Oleh: Pdt Renata Thomas Ticonuwu, STh
Mereka yang saat ini berusia 50-an Tahun, pasti masih mengingat lagu yang sering dinyanyikan di sekolah dasar: “Berkibarlah Benderaku”.
Liriknya antara lain seperti ini:
Berkibarlah benderaku, lambang suci gagah perwira, di seluruh bangsa Indonesia, kau tetap pujaan bangsa. Siapa berani menurunkan engkau, serentak rakyatmu membela, sang Merah Putih yang perwira, berkibarlah selama-lamanya.
Lagu ciptaan Ibu Sud ini mengajak para siswa dari sejak dini untuk merasakan dan menjiwai Indonesia melalui bendera pusaka Merah Putih.
Dan fakta sejarah, ada beberapa peristiwa heroik dari para pejuang untuk menyatakan sikap kecintaan akan negeri Indonesia melalui pengibaran bendera Merah Putih.
Bahkan dengan gagah berani, mempertarukan nyawa untuk menurunkan bendara Belanda, merah-putih-biru, merobek kain birunya sehingga hanya tersisa Merah Putih dan dikibarkan kembali.
Hanya segelintir daerah saja yang pernah terjadi hal seperti itu. Jika peristiwa ini terjadi di Pulau Jawa, barangkali merupakan hal yang biasa. Sebab perjuangan merebut kemerdekaan Indonesia berpusat di Jawa.
Namun, jika terjadi di daerah yang masyarakatnya tidak merasakan penderitaan akibat penjajahan oleh Belanda maka ini adalah yang luar biasa.
Seperti di Minahasa.
Di daerah ini, masyarakat umumnya merasakan pendidikan Belanda, mulai dari HIS, MULO dan AMS.
Setelah tamat AMS (lebih setingkat dari SMA), pemuda-pemudi Minahasa yang dianggap pinter berprestasi diberikan bea siswa untuk melanjutkan studi di negeri Belanda.
Dan banyak, para pemuda yang diterima sebagai tentara Belanda atau KNIL. Jika orangtuanya dianggap berdarah Belanda atau Indo Belanda dan mereka yang disebut Vreemde Oosterlingen maka dapat diterima sebagai tentara KL atau Koninklijke Landmacht. Sejajar dengan tentara irang Belanda.
Perhatian Kerajaan Belanda kepada masyarakat turunan Toar-Lumimuut ini, membuat pemerintah Nederland mengusulkan bahwa Minahasa masuk sebagai Provinsi ke-12 (Twaalf Provincie).
Dan ini menjadi suatu kebanggaan masyarakat umum saat itu.
Tetapi di tengah perhatian Belanda kepada orang Minahasa, banyak juga mereka yang terpelajar bahkan sebagai anggota tentara KNIL dan KL, menyadari diri bahwa rasa keIndonesiaan masih tertanam dalam bathin dan jiwa mereka.
Apalagi sejumlah pejuang Indonesia yang berasal dari Minahasa terus menggelorakan dengan informasi surat-surat yang dikirimkan. Termasuk orang Minahasa yang pernah mendapat bea siswa oleh Belanda untuk kuliah di Nederland.
Antara lain Sam Ratulangi, AA Maramis, Babe Palar dan Philip L Sigar.
