
Bitung – Peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2013 yang dipusatkan di Manado dianggap Axel Galatang sebagai acara seremonial belaka.
Mengingat, acara tersebut lebih banyak berisi kegiatan-kegiatan pemerintah dan bukan untuk kepentingan Pers sama sekali.
“HPN terlalu banyak acara seremonial, bukan menjadi ajang untuk melakukan koreksi atau sharing tentang masalah Pers saat ini,” kata Galatang ketika membawakan materi peran Pers dalam Semiloka Pers Kota Bitung, Selas (12/2).
Wartawan senior Sulut ini mengaku makna HPN telah bergeser dan bukan lagi milik insan Pers. Terbukti, dalam peringatan HPN, tiap daerah “dipaksa” untuk mengikuti pameran yang menurutnya tidak ada kaitannya dengan Pers.
“Presiden juga datang hanya buang-buang uang negara karena hanya datang begitu saja tanpa memberikan dampak bagi Pers,” katanya.
Ia juga mengaku dihubungi oleh sejumlah pihak untuk menghadiri acara puncak HPN, tapi ia menolak.
“Buat apa saya hadir hanya untuk datang bertepuk tangan ketika Presiden berpidato kemudia pulang, sedangkan dampak untuk Pers tidak ada sama sekali,” katanya.
(enk)

Dari dulu tu acara2 memang SEREMONIAL samua!!!
Hmmm….
Bukannya memang HPN itu memang seremoni insan pers ya? dan gaungnya yang sampe ke nasional dan internasional juga merupakan salah satu keuntungan yang didapatkan daerah dari pers bukan?
sebenarnya HPN ini (pendapat pribadi yah :-) ) lebih menguntungkan SULUT, karena selain ada perhelatan akbar yg diliput media (lihat saja WOC dll) juga dengan banyaknya yg hadir bisa membuat perputaran ekonomi di SULUT lebih baik. selain itu, image daerah yg sering dilakukan perhelatan nasional dan internasional menandakan daerah itu sangat kondusif untuk para investor dll.
jujur saja, saya sangat bangga ketika kolega saya dari aussie datang dan bilang bahwa di indonesia ternyata ada taman laut Bunaken yg indah, yg dia lihat waktu WOC. cuma memang jadi PR bagi pemerintah utk merawatnya.
intinya HPN itu (IMHO), lebih menguntungkan bagi SULUT dalam proses kampanye atau penyebaran informasi daerah.
Salam,
Sam
@adano : hei ng belajar itu sejarah pers, ini galatang da blg so butul itu.
HPN itu hanya utk strategi pemerintah membungkam media, trmsk media sayap pemerintah. Lia jo ni HPN, banya anak2 sekolah diliburkan cuma mo k mantos,wkwkwkwkwk..krn ni kepsek2 dapa tekan musti suru k mantos.
om redaksi brita manado, artikel berita tentang SBY tidak jadi resmikan CTI kiapa lenyap ? …..odoe, kapan mau maju klo tako dikritik !
Coba rekeng berapa doi rakyat@APBD terkuras oleh Pencitraan Pejabat Pemprop. Kita pe Oma bajual pisang bayar tu Pajak@PBB. Dorang pake bapesta dan pencitraan.. Kalo kita lia tu foto2 pejabat di Baligo, kita pe hati tairis Opa Oma Om Tante dikampung berjuang cari doi bayar pajak dorang bapesta akang demi kepentingan pribadi.. OMG..dapa katula dorang…
“Buat apa saya hadir hanya untuk datang bertepuk tangan ketika Presiden berpidato kemudia pulang, sedangkan dampak untuk Pers tidak ada sama sekali,”…betul om Axel Galatang, cm seremonial …coba lia acara-acara terdahulu itu spt WOC, Sail Bunaken, Asean Turism Forum (ATF) dan ivent lainnya semua cm seremonial tdk ada pengaruhnya, bahkan sejumlah hotel yg mendadak dibangun untuk antisipasi akan datangnya para turis dari manca negara setelah acara internasional digelar di Manado, ternyata semua hotel itu saat ini hanya mengharapkan dari hunian tamu lokal bukan turis asing melainkan cuma para tamu dinas pemerintah yg datang ke Manado hanya untuk keperluan rapat dinas. so wat geto loh …..
Setuju om. Seremonial abis
Om pe mau apa dang?
Diliput pers secara nasional saja sudah sukur torang di Manado ini.
Ini om pe pandangan dari kaca-mata-boo sto kang makanya nda bisa analisa di pe dampak baik untuk pers dan untuk Manado/sulut sebagai penyelenggara.
Kong peserta pamerannya dari daerah mbo’ jangan di artikan “dipaksa” tapi diharuskan berpartisipasi buat setunjung nationwide bahwa manado kalo beking even bukang cuma asal jadi…
Derpada tu daerah pe doi kas (Rakyat punya) cuma ja pake for pasang2 iklan dorang pe boss2 sehalaman penuh deng segala macam “selamat ini itu…nda war2”
Bagimana ini om wartawan senior?