Manado – Ada catatan kecil saat pelaksanaan pertemuan perempuan pemimpin se-Indonesia di Hotel Aryaduta Manado yang secara resmi telah ditutup Gubernur Sulut Sinyo Harry Sarundajang, Selasa (12/2) sore tadi.
Acara yang menghadirkan politisi, birokrat dan teknokrat perempuan ini ternyata tidak sepenuhnya diapresiasi positif politisi perempuan DPRD Sulut. Selain pembukaan kemarin, acara hari ini yang menghadirkan pembicara-pembicara ternama seperti ibu Dewi Motik dan Menteri Kesehatan RI ternyata hanya dihadiri 4 legislator perempuan Sulut.
Pengamat politik dan pemerintahan Taufik Tumbelaka menilai minimnya kehadiran politisi perempuan termasuk legislator Sulut perempuan pada hajatan berskala nasional ini patut disayangkan.
“Ini acaranya perempuan dan Sulut adalah tuan rumah. Sangat disayangkan banyak legislator perempuan Sulut tidak hadir. Kalau acara pembukaan lebih bersifat seremonial. Terpenting hari ini,” tutur Tumbelaka.
Ketua panitia Meiva Salindeho-Lintang STh ikut menanggapi minimnya partisipasi anggota DPRD Sulut perempuan pada pertemuan perempuan pemimpin se-Indonesia ini. Menurut Meiva, masyarakat sendiri akan menilai kapasitas legislator perempuan.
“Masyarakat yang akan menilai kesanggupan seseorang untuk mengimplementasikan kemampuan selama dia memiliki job di lembaga legislatif,” tukas Meiva yang juga ketua Deprov Sulut ini.
Terpantau beritamanado, empat anggota Deprov Sulut yang hadir pada acara hari ini adalah, Sus Sualang-Pangemanan, Netty Pantow, Rosmawati Nasaru dan Meiva Lintang. Padahal, gedung cengkeh mengoleksi 12 legislator perempuan hasil Pemilu 2009. (Jerry)

Mmg noh nda perlu hadir.. Urus jo tu korban banjir deng longsor. Jang cuma sibuk deng bking2 acara trus
Adow ee doo eee pa poles peracaya diri banget ngana eee, so ga nyambung ckckck….belajar bae” dulu baru ba comment, kong kalo ba comment jang asal menjudge so kayak ngana ini yg paling jago….ckckckc kaciannnn banget….
redaksi, delete akg kasiang poles pe coment, pe lawak sx eh!!
Poles……..nggak nyambung dgn topik ngana pe comment…..
Yang mendukung Lucky Sondakh untuk menjdi pejabat publik, sangat jelas merupakan orang2 yang ANTI pemberantasan korupsi.
Aahhh….seandainya para ‘masyarakat’ UNSRAT punya keberanian membuka ke publik, siapa sebenarnya si prof.Lucky Sondakh, mantan Rektor Unsrat dan Ayahanda terpidana korupsi Angelina Sondakh.
Masih ingat, bagaimana orang2 yg divonis sebagai Pelaku G30S, baik oleh pengadilan maupun oleh masyarakat, keluarga dan orang dekat merekapun dianggap ‘terlibat’.
Aaaahhh…..Seandainya perilaku tersebut terjadi juga pada Terpidana Korupsi? ?!!!!
Ayo kita mulai!! Belajar dari Cina!