
Langowan – Sawangan, Airmadidi, Tomohon, dan Tompaso, merupakan empat daerah yang memiliki taman yang berisi kubur tua peninggalan leluhur orang Minahasa. Namun perlu diketahui, dahulunya seluruh waruga itu tersebar di hamper seluruh Minahasa. Itu artinya ada upaya dari orang yang memegang kekuasaan untuk melakukan pemindahan. Lalu apa motoif dibalik upaya pemindahan waruga tersebut?
Menurut penelusuran BeritaManado.com, ternyata salah satu tokoh yang ada dibalik pemindahan waruga di beberapa lokasi merupanan pemimpin daerah yang pernah berkuasa di bumi Nyiur Melambai. Sejumlah spekulasi pun bermunculan di kalangan warga maupun tokoh pemerhati budaya. Mulai dari adanya kepentingan politik sampai pada dugaan pencurian benda – benda purbakala pun mencuat.
Marthen Sumual, warga Desa Palamba Kecamatan Langowan Selatan yang saat ini menjadi juru kunci Waruga Toar Lumimuut mengungkapkan pandangannya terhadap upaya pemindahan waruga. Menurutnya, memang sejauh ini kalangan pemerhati budaya maupun masyarakat awam hanya bisa berkomentar. Namun apa yang disampaikan itu setidaknya memiliki benang merah antara pemindahan waruga di suatu tempat dengan tempat yang lain.
Saya percaya para leluhur dahulunya tidak sendirian saat dikuburkan. Semua orang mengetahui bahwa di dalam sebuah waruga bukan hanya terdapat tulang belulang, namun juga benda – benda yang memiliki nilai jual tinggi jika diuangkan. Waruga di Minahasa ada banyak sekali, namun benda – benda purbakala yang terpajang di taman waruga tidak sebanding. Kalaupun ada itu hanya yang terbuat dari tanah liat – Marthen Sumual.
(Frangki Wullur)
