
MANADO – Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Manado melalui Ketua BPC GMKI Manado, Dedykarto Ansiga, memprotes sekaligus mengecam tindakan aparat keamanan dalam hal ini Polisi yang bertindak seperti premanisme, saat menghadang demo mahasiswa yang menolak kenaikan harga BBM.
Dedy sapaan akrab Ketua GMKI Manado ini menjelaskan, bahwa pada Kamis malam lalu, dalam rangkaian aksi menentang rencana pemerintah menaikkan harga BBM. Seorang aktivis nasional sekaligus Ketua Umum PP GMKI, Jhony Rhmat Ssi, terkena pukulan oleh oknum aparat, hingga robek bagian kepalanya.
Persoalannya kata Dedykarto Ansiga, polisi yang merupakan pengayom masyarakat malah mengajarkan premanisme bagi rakyat. ”Tindakan ini melukai hati masyarakat, terutama warga GMKI, bukan karena Bung Jhony Rahmat, Ketum GMKI. Melainkan lebih besar daripada itu bahwa apa yang diperjuangkannya untuk kemashalatan masyarakat banyak. Anehnya malah kena pukul dari aparat yang katanya pengayom masyarakat, ”ujar Dedykarto, Jumat (30/3).
”Sungguh sebuah tragedi jika keadaan ini terus terjadi di Indonedsia. Ini akan terus memaksa kita mengalami krisis demi krisis yang mengarah pada kerawanan sosial. Kami GMKI Manado mengimbau kepada aparat mengusut tuntas kasus pemukulan ini., ”ujarnya.
”Kami sadar jika hanya sebatas imbauan itu sudah menjadi hal yang lumrah di telinga polisi, dan sangat mustahil di tindaklanjuti. Tetapi di tenga pesimistis yang terjadi, kami tetap berharap agar polisi dapat menangani kasus ini secara profesional, dan tuntas.(niel)

Kalu tu surat dari GMKI Manado nda digubris baru torang bekeng tekanan-tekanan fisik, itu menurut kita lebih santun ketimbang langsung bereaksi dengan gerakan2 yang tanpa etika. Torang pake dulu metode persuasif dari BPC kalu so nda berlaku baru torang kase turun samua ni kekuatan GMKI Manado.
So butul itu Kecab, selain statemen alangkah baiknya langsung memberikan tekanan kepada pihak keamanan melalui surat resmi untuk menindaklanjuti kasus ini. Kita sepakat apa yang Kecab da bilang