
Manado – Sosok pribadi Joko Widodo (Jokowi) Presiden terpilih hingga saat ini masih menjadi perbincangan banyak pihak. Selain sukses dalam karir politik, salah satu yang khas dikenal rakyat Indonesia yakni keaktifannya blusukan saat menjabat Gubernur DKI.
Dan blusukan inilah bagi Mahyudin Damis, akademisi Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) yang dinilai sangat perlu dicontohi kepala daerah di Provinsi Sulut. Karena cara tersebut dinilai sangat tepat dilakukan sang kepala daerah untuk mengetahui secara langsung problem di tengah masyarakat dan dengan modal tersebut, bisa dijadikan bagian dari program perencanaan pembangunan daerah.
“Blusukanlah yang membuat Jokowi cepat dikenal publik. Ternyata masih akan dilakukannya meski Ia (Jokowi) telah terpilih jadi Presiden RI ke-7. Kelemahan pemimpin kita selama ini memang terletak pada sisi pengawasan. Perangkat sistem ‘e-blusukan’ akan ditempatkan di kantor Kepresidenan, sementara pengelolaannya di lapangan dapat diserahkan kepada tim relawan. Dengan begitu, Jokowi-JK pun dapat memerintahkan para menteri-menteri agar melaksanakan tugas sesuai target yang sudah ditentukan,” terang Mahyudin.
Selain itu menurutnya, pemimpin yang ada saat ini memiliki kekurangan dalam pengawasan di wilayah yang dipimpinnya. Ia pun menyarankan agar Walikota Manado melakukan cara yang sama dengan Jokowi untuk memahami betul sekaligus melihat persoalan yang dihadapi masyarakat seperti kasus tauran antar kampung (Tarkam) yang saat ini menimbulkan keresahan.
“Walikota Manado pun bisa mengadopsi cara (Blusukan) ini guna memanimalisir kasus Tarkam dan panah wayer. Walikota dapat mengecek kondisi dilapangan, atau memerintahkan Kepala Lingkungan (Pala) dan para pengurus partai pendukung, serta Polsek dan Babinsa agar segera ambil langkah sedini mungkin bila info bakal terjadi Tarkam. Dengan ‘blusukan’ via hp pun bisa terlaksana jika ada kemauan. Kepedulian sang pemimpin terhadap rakyatnya tampak nyata,” tandasnya. (leriandokambey)
