
Oleh: Alfrits Semen
PAGI baru saja pecah di pesisir Desa Sarawet, Minahasa Utara.
Air laut masih tenang ketika Wisye Sahambangung melangkah masuk ke lumpur mangrove sambil membawa bibit kecil di tangannya.
Bagi sebagian orang, pekerjaan itu mungkin terlihat sederhana.
Namun bagi Wisye, menanam mangrove adalah menjaga hidup.
“Laut bukan sekadar sumber penghasilan. Laut adalah sumber kehidupan,” begitu keyakinan yang selama ini dipegang perempuan nelayan tersebut.
Di desa pesisir yang akrab dengan angin asin, Wisye memilih jalan yang jarang diambil perempuan di komunitasnya, menjadi nelayan sekaligus pejuang lingkungan.
Ia sadar, masa depan masyarakat pesisir tidak bisa dipisahkan dari kesehatan ekosistem mangrove.
Dari kesadaran itulah lahir keterlibatannya dalam kelompok usaha ekonomi perempuan Rhizophora—bagian dari gerakan Women Mangrove Warrior yang didukung CARE Indonesia, Yayasan Bumi Tangguh, serta Asian Venture Philanthropy Network (AVPN).
Bersama perempuan-perempuan pesisir lainnya, Wisye tidak hanya menanam mangrove.
Mereka menyiapkan bibit, merawat kawasan pesisir, memantau pertumbuhan tanaman, hingga menggerakkan kesadaran warga tentang pentingnya benteng alami terhadap perubahan iklim.
Kerja sunyi itu kini membawa langkah Wisye jauh melampaui pantai Sarawet.
Pada 27–30 April 2026, ia berdiri di Melbourne, Australia, mewakili Minahasa Utara dalam forum internasional Women Deliver 2026.
Di hadapan delegasi berbagai negara, Wisye berbicara tentang perempuan pesisir, ketahanan keluarga, dan perjuangan menjaga mangrove di ujung utara Sulawesi.
Dalam side event bertajuk “Guardians of the Coast: Women Leading Climate Justice”, suara perempuan desa itu mendapat perhatian hangat peserta konferensi internasional, termasuk jaringan CARE global dan para jurnalis.
Namun perjalanan Wisye menuju forum dunia tidak lahir begitu saja.
Sebelum keberangkatan, ia menerima dukungan langsung dari Bupati Minahasa Utara, Joune Ganda.
Di ruang kerja bupati pada 21 April 2026, Wisye mendapat pembekalan sekaligus motivasi agar pengalaman masyarakat pesisir Minahasa Utara dapat menjadi inspirasi global.

Joune Ganda melihat gerakan perempuan penjaga mangrove bukan sekadar aktivitas lingkungan.
Baginya, itu adalah wajah pembangunan berkelanjutan yang tumbuh dari desa.
“Perempuan memiliki peran strategis dalam menjaga ekosistem pesisir, memperkuat ketahanan keluarga, serta mendorong pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan,” ujar Joune.
Pernyataan itu bukan sekadar dukungan simbolik.
Pemerintah Kabupaten Minahasa Utara terus mendorong program pelestarian berbasis masyarakat dengan memperkuat kapasitas perempuan pesisir dalam menjaga kawasan mangrove.
Langkah tersebut penting bagi Minahasa Utara yang memiliki kawasan pesisir rentan abrasi dan dampak perubahan iklim.
Mangrove menjadi benteng alami yang menjaga garis pantai sekaligus membuka peluang ekonomi baru, mulai dari perikanan hingga pariwisata berkelanjutan.
Di tengah ancaman krisis iklim global, cerita dari Sarawet menjadi penanda bahwa solusi tidak selalu lahir dari ruang konferensi besar atau laboratorium modern. Kadang, solusi datang dari tangan perempuan desa yang menanam bibit kecil di lumpur pesisir.
Wisye memahami itu.
Baginya, menjaga mangrove berarti menjaga masa depan. Sebab setiap akar yang tumbuh di pesisir bukan hanya menahan ombak, melainkan juga menjaga harapan generasi berikutnya.
Dan dari Desa Sarawet, suara itu kini telah sampai ke dunia.
