Dikatakan, COVID-19 bagaikan fenomena gunung es.
Yang terlihat hanyalah pucuk, sementara bagian tengah dan kaki tidak.
Kondisi ini sebenarnya yang membahayakan.
“Bisa jadi ada OTG di sekitar kita, atau kita sendiri sudah OTG tanpa disadari. Jika imunitas bagus, oke saja, bahkan bisa sembuh sendiri,” katanya.
Kondisi akan berbeda jika transmisi terjadi pada usia rentan atau anak di bawah umur.
Apalagi kasus dominan yang terjadi di seluruh dunia, pasien meninggal dunia karena ada penyakit penyerta.
“Jadi pemahamannya, usia lanjut itu bukan terpapar karena komorbid tapi komorbid inilah yang memperparah kondisi mereka jika sudah positif,” jelas Agusteivie.

Akademisi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Universitas Sam Ratulangi, Mahyudin Damis setuju dengan penjelasan Agusteivie Telew.
Menurut dia, dalam bermasyarakat, anak muda menjadi objek yang ingin menonjol di segala bidang.
Semangat tampil di tengah masyarakat menjadi penting walau terkadang menyepelekan aturan.
“Mereka aktif, berkelompok dan kadang berkerumun. Kelakuan ini sudah membuka peluang terjangkit,” kata Mahyudin.
Selain itu, lanjut Damis, masih ada anggapan para pemuda bahwa melanggar aturan itu hebat.
“Di jalanan umum, yang tidak pakai masker kebanyakan usia muda. Itu contohnya,” ujarnya.
Mahyudin juga prihatin dengan kecurigaan sebagian orang terhadap vonis positif pada seseorang.
Bahkan jika menuduh ada proyek di balik penanganan wabah corona.
“Tolong hilangkan stigma itu. Anjuran pemerintah sudah benar dan menjadi solusi agar kita terhindar dari penularan,” ajaknya.
Belakangan, positif COVID-19 di Sulut tercatat 264 kasus positif.
