Manado – Buntut maraknya aksi premanisme dengan menggunakan panah wayer, sontak menimbulkan ketakutan mendalam bagi sebagian besar masyarakat Kota Manado untuk menikmati indahnya malam di luar rumah.
Salah satu pemuda, Yudistira Manggopa menuturkan, sebelum maraknya panah wayer, dirinya kerap beraktivitas di malam hari. Namun setelah panah wayer makin merajalela, Manggopa pun mengurung niatnya untuk berpergian menjelang malam tiba.
“Kalau dulu, saya tidak takut keluar malam. Tapi sekarang, ancaman panah wayer selalu terpikirkan. Jadi saya sudah tidak lagi keluar malam. Padahal, banyak hal yang dapat saya lakukan saat malam hari, seperti nongkrong bersama teman-teman atau jalan-jalan di maal-maal,” tutur warga Kelurahan Kleak lingkungan I ini.
Hal senada juga dituturkan Ronald Tamboto, karyawan itCenter. Dikatakannya, ketika dirinya mendapatkan jam kerja siang, tentunya akan berakhir malam hari. Dan ketakutan sering muncul jika akan pulang kerja.
“Saya biasanya kalau masuk siang hari sampai malam jam sebelasan. Yang saya khawatirkan ketika mau pulang ke rumah, kasus-kasus penganiayaan menggunakan panah wayer selalu membayang-bayangi pikiran saya. Jadi, saya dan rekan-rekan kerja kerap pulang secara bersamaan,” ungkap Tamboto. (leriandokambey)
