
Jakarta, BeritaManado.com — Ketua Bidang Data dan Teknologi Informasi Satgas Penanganan COVID-19, Dr. Dewi Nur Aisyah meminta masyarakat tidak hanya fokus pada klaster perkantoran dalam memutus mata rantai penyebaran virus corona.
Pada Talkshow COVID-19 bertema ‘Ragam Cluster di Indonesia’ di Media Center Satgas Pencegahan COVID-19 di Gedung BNPB Jakarta, Rabu (23/9/2020), Dewi Nur Aisyah membeberkan dua data tertinggi yakni klaster rumah sakit dan klaster komunitas.
Dewi menjelaskan, klaster rumah sakit berjumlah 63,46 persen.
Klaster rumah sakit adalah pasien yang datang ke rumah sakit, puskesmas, dan klinik kesehatan guna memastikan terpapar COVID-19.
Atau bisa saja tingginya jumlah klaster rumah sakit ini akibat pihak rumah sakit yang jemput bola melakukan swab test.
“Masyarakat jangan hanya melihat klaster perkantoran. Klaster rumah sakit dan klaster komunitas jauh lebih besar dan perlu diantisipasi,” ujar Dewi.
Selain itu Dewi dalam paparannya membeberkan empat klaster baru yang perlu diwaspadai.
Seperti klaster hotel, pernikahan, pesantren, dan klaster hiburan malam.
Dewi menjelaskan, temuan tiga kasus klaster di hotel yang ketiganya memiliki kontak erat.
“Ditemukan tiga kasus di hotel, tiga orang punya kontak di sana. Ini masih penyelidikan tapi muncul di tempat baru yang kemungkinan ada penularan,” ujarnya.
Selain data di Provinsi DKI Jakarta, Dewi menjelaskan data di Jawa Timur dan Jawa Barat muncul klaster baru.
Di Jawa Timur ada dua klaster baru, yaitu klaster seminar dan klaster rumah tahanan (rutan).
Klaster seminar dengan 403 kasus hingga salah seorang pembawa materinya meninggal dunia.
“Rutan-rutan juga sudah muncul dan ini harus hati-hati. Yang jenguk pun perlu dipastikan sehat. Jangan sampai nantinya menyebar ke petugas atau warga rutan di sana,” bebernya.
Untuk mengantisipasi agar wabah coronavirus ini tidak semakin meluas Dewi mengajak seluruh masyarakat untuk mematuhi protokol kesehatan.
Selalu pakai masker, jaga jarak, dan mencuci tangan.
Mematuhi protokol kesehatan pun terus disosialisasikan oleh pemerintah.
Selain patuh protokol kesehatan Dewi memberi saran untuk menganggap orang lain adalah pasien positif COVID-19 tanpa gejala atau OTG.
