Agama dan Pendidikan

Tindi Lebih Layak Debat dengan Siswa SMA

Tindi Lebih Layak Debat dengan Siswa SMA
Donly Bilote

Manado – Ajakan Jimmy Tindi untuk berdebat dengan Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Cabang Manado beberapa waktu lalu menuai tanggapan dari puncak gedung studen centre (SC). Ketua Cabang GMKI Manado Dedyarto Ansiga SH, melalui Sekretaris Komisariat Politea Donly Bilote mengungkapkan bahwa Jimmy Tindi tidak layak berdebat dengan GMKI, sebab menurutnya Tindi lebih layak berdebat dengan Siswa SMA atau sederajatnya.

“Jadi berkaitan dengan tantangannya saudara Jimmy Tindi untuk berdebat dengan kami GMKI, saya perlu menegaskan bahwa GMKI tidak pantas berdebat dengan pahlawan kesiangan seperti Jimmy Tindi. Sebab GMKI itu diisi oleh orang-orang yang kritis, pintar dan berintegritas. Maka dari itu kami tidak pantas berdebat dengan mahasiswa yang di DO dari kampus seperti Jimmy Tindi, Saudara Tindi pantasnya berdebat dengan siswa SMA,” kata Donly.

Ditambahkannya, Unsrat memang bukan milik GMKI, tetapi GMKI memiliki Unsrat karena Unsrat adalah ladang pelayanan GMKI. “Jika Jimmy berbicara kapasistas GMKI terhadap Unsrat hal tersebut sudah sangat jelas dalam konstitusi GMKI. Malah saya balik bertanya apa kapasitas Jimmy yang masuk mencampuri urusan Unsrat, padahal bukan kewenangannya,” tanya Donly yang juga merupakan wakil Ketua BEM Unsrat.

“Janganlah menjadi pahlawan kesiangan untuk saudara Jimmy Tindi, kasihan kalau masalah Unsrat dicampuri oleh orang yang punya integritas DO seperti anda,” tutup Donly.(gn)

 

31 tanggapan untuk “Tindi Lebih Layak Debat dengan Siswa SMA”

  1. .
    ..BUKANG KASE JALAN KELUAR PA UNSRAT…
    NGONI DENG NGONI TARE ITU BAKU SIKAT..
    .
    ..SO BAKU KASE KALUAR ITU KEJELEKAN MASING-MASING…
    MASIH ANAK KACILI SAMUA NGONI ;)
    .
    ..

  2. Depe Sek kan Erick Kawatu!! Maksudnya dia itu atau??
    Memang dia pang main judi so??? Astaga kalau butul ini bahaya no… Rusak katu tu GMKI.

  3. berbicara mengapa GMKI juga ikut terlibat dalam urusan UNSRAT, saya mengiyakan apa yang dikatakan saudara Donly…
    Medan pelayanan ( Tri-Gumul ) GMKI, yaitu: Perguruan Tinggi, Gereja, dan Masyarakat..
    jadi, kalau sampai GMKI memberikan pokok pikiran ataupun menunjukan sikap atas suatu peristiwa atau hot issue yg berkembang itu menunjukan bahwa GMKI menjalankan salah satu fungsinya sebagai fungsi kontrol baik dalam dunia perguruan tinggi (termasuk dalamnya UNSRAT), dunia gereja, bahkan dunia masyarakat, dan itu tidak menyalahi konstitusi organisasi ini..
    Saya secara pribadi salut dan memberikan apresiasi kepada Jimmy Tindi yg berani tampil ke permukaan untuk membawa aspirasinya. Tapi mohon maaf sebelum berkembang menjadi lebih luas, apabila anda mengecam GMKI dalam hal ini sebagai fungsi kontrolnya menunjukan sikap dan memberikan pokok pikiran, itu berarti anda melecehkan aturan konstitusi organisasi ini, karena dalam negara ini siapa saja berhak memberikan kritik-saran..
    menurut saya kalaupun ada oknum yang siap dan mengajak untuk debat terbuka, maka bukan andalah (Jimmy Tindi) orangnya karena yang lebih berhak adalah mereka yang sedang dan sementara berpolemik yaitu pihak rektorat ataupun Tim 10. kalau hanya debat masalah kata ‘provokator’ ya sudahlah, insafkan saja…. karena ada banyak hal yang lebih penting untuk diperdebatkan dan diselesaikan yaitu kasus2 permasalahan hukum yg saat ini terjadi, perkembangan dunia pendidikan, dan masih banyak lagi. kalau hanya mencari siapa yang benar atau salah dalam masalah kata ‘provokator’ itu lebih baik abaikan dan lupakan saja (hanya membuang-buang waktu), setiap orang juga bisa khilaf-tidak luput dari kesalahan..
    ada baiknya kita mencari titik temu, bukannya merapatkan barisan dan mengumpulkan pasukan untuk mengambil sikap permusuhan dan oposisi antara kedua oknum..
    Semoga bermanfaat..
    UT OMNES UNUM SINT.. Syalom!!

  4. yahhhh Jimy Tindy lagi kase tunjung depe jago sayang copas, apalagi ni onal banyak menuduh kage dia yang bagitu. btw kiapa ni koment jaga ba ilang? sapa yang jaga hapus?

  5. Hmmm…. permisi, mohon izin ikut bagi pokok pikiran..
    menurut hemat saya, pergunakanlah etika dalam ber-statement, janganlah saling lempar komentar yang akhirnya dapat memicu pembunuhan karakter dan karir seseorang, apalagi langsung lewat media (baik cetak/online) yg langsung berhadapan dengan publik ramai, implikasinya oknum2 yg dituduhkan akan berangsur-angsur rusak image-nya, bahkan cara pandang/persepsi masyarakat terhadap oknum2 yg dimaksud tidak objektif lagi..
    begitu pula dengan hal memberikan komentar terkait suatu issue, pikirlah dahulu secara matang, pelajari secara cermat, kritis, dan komprehensif.. pergunakanlah idealisme yg benar dan se-objektif mungkin dalam memberi argument terhadap sesuatu hal, agar supaya tidak mempermalukan diri sendiri.. kata2 yg sudah dikeluarkan tidak akan pernah dan mungkin ditarik kembali.. Ingatlah hal ini !!
    menyangkut problematika UNSRAT ini saya juga tidak setuju dan kecewa apabila seorang rektor yg notabene adalah pimpinan universitas yg menaungi dan menahkodai seluruh civitas (dosen, pegawai, mahasiswa, bahkan seluruh organisasi2 yg terkait di dalamnya) tega men-cap beberapa dosenya (dalam hal ini Tim 10) sebagai provokator. Saya rasa Pak Rektor perlu mengklarifikasi kembali statementnya itu krn menurut saya beliau kurang menghargai hak serta kewenangan seseorang utk beraspirasi dan terlebih kurang menghargai dinamika dalam perguruan tinggi… seorang pemimpin haruslah siap dikritisi.. tetapi pemimpin juga haruslah tegas dan bukannya kasar (termasuk mengeluarkan kata2 pedas).. seharusnya permasalahan yg terjadi di ranah perguruan tinggi harus diselesaikan secara intelek, arif, bijaksana, elegan, penuh dgn idealis dan objektif.. agar supaya menjadi contoh dan teladan bagi semua civitas bahkan seluruh masyarakat.. kalo cuma perang statement dan beretorika saja permasalahan ini tidak akan pernah akan selesai..
    saya selaku kader GMKI, bahkan sekarang berkapasitas sebagai salah satu Badan Pengurus Cabang (BPC) GMKI Manado, sangat menyayangkan apabila tuduhan2 yg disampaikan oleh saudara sekalian kpd rekan2 dan kader2 GMKI benar adanya.. tetapi apabila memang tidak senang secara personal terhadap satu atau beberapa oknum tolong jgn membawa nama institusi dan organisasi, sangatlah tidak etis menjelekan institusi ataupun organisasi hanya karena 1 personal saja yg memberi statement di forum yg luas seperti ini..
    saya pun kecewa dengan statement Sekom Politeia yg juga selaku Wakil Ketua BEM Unsrat yang dengan berani dan lantang mengkerdilkan citra personal seperti itu, permasalahan UNSRAT apabila dikritisi oleh setiap insan adalah hal yang lumrah dan wajar, karena semua rakyat SULUT pantas memberikan masukan ataupun kritik karena secara emosional kita semua perduli akan citra, perkembangan, dan kelangsungan perguruan yang kita cintai bersama ini..
    saya bingung dan ingin pertanyakan apakah benar saudara Donly telah mendapat legitimasi resmi dari BPC dlm hal ini Kecab/Sekcab?? sungguh sangat ironis dan memiriksan apabila statement pimpinan dan pengurus cabang disuarakan oleh pengurus komisariat.. yg setau saya dlm konstitusi maupun statuta telah diatur bahwa pengurus komisariat tidak bisa mewakili baik kehadiran ataupun statement keluar atas nama Badan Pengurus Cabang..
    saya setuju dengan poin2 yg diajukan oleh Jimmy Tindi setelah membaca komentarnya di atas… sudah sangat jelas bahwa wakil rakyat secara objektif memberikan aspirasi/pokok pikirannya menyangkut permasalahan yang terjadi.
    saya hanya bisa berharap permasalahan ini bisa cepat diselesaikan agar tidak mengganggu stabilitas dunia kampus UNSRAT.
    sekali lagi pergunakanlah etika dalam memberikan komentar, statement, ataupun argument.. Terima kasih.
    Syalom…….!!!

  6. KEMANA INTELEKTUAL KRITIS KITA…???
    (Sekedar share dgn org yg DO)
    Keadaan negara kita makin darurat: kemiskinan makin meluas, korupsi merajalela, ketidakadilan terus dipertontonkan, sumber daya alam dikuasai segelintir perusahaan asing, dan negara yang makin tak berdaulat.

    Di tengah situasi seperti itu, kita belum mendengar suara nyaring kaum intelektual mengeritik keadaan tersebut. Pada pertengahan Januari lalu, Arya Hadi Dharmawan, seorang dosen di Institut Pertanian Bogor, mengirim surat kepada Presiden SBY. Akan tetapi, orang-orang seperti Arya masih sangat sedikit. Padahal, negara ini punya banyak professor, doktor, master, sarjana, dan lain-lain.

    Kami teringat dengan Noam Chomsky, seorang intelektual besar abad 20, pernah mencemooh kecenderungan intelektual, khususnya di Universitas, yang tak ubahnya sebagai pelayan kebenaran penguasa. Maklum, Chomksy pernah merasakan era dimana kampus pernah menjadi sarang kaum radikal, yaitu tahun 1960-1970-an.

    Kampus sudah meninggalkan peran klasik mereka: sumber atau pusat kritik. Peran kaum intelektual telah bergeser; dari pengeritik kapitalisme menjadi pengusung atau pelayan kapitalisme.

    Kapitalisme lanjut memang berambisi menghabisi pemikiran-pemikiran radikal. Ini sejalan dengan gagasan Margaret Tatcher: “There is no alternative”. Pendek kata, tugas pendidikan kapitalistik adalah membantai fantasi “dunia lain”. Bagi mereka, puncak sejarah manusia adalah pasar bebas.

    Sejak neoliberalisme berkuasa di dunia pendidikan, logika komoditas juga makin menggejala dan merasuki gaya hidup Universitas. Lihatlah bagaimana para dosen menciptakan fantasi kepada murid-muridnya tentang dunia luar (dunia kerja) yang begitu indah. Sementara murid, yang sudah terobsesi dengan gaya hidup mewah, tidak sabar lagi untuk menuntaskan studi dan ditempatkan di sebuah perusahaan besar.

    Akhirnya, terjadilah apa yang pernah direnungkan oleh Karl Marx ratusan tahun yang lalu. Dalam karya “Reflections of a Young Man on The Choice of a Profession”, Marx mengatakan: “Kita hidup dalam sebuah masyarakat yang telah menentukan apa yang harus kita lakukan sebelum kita punya kesempatan untuk menentukannya.”

    Professor-professor kita suka mengurung diri dalam ruang-ruang penelitian. Dan, kalaupun mereka terjun dalam realitas, maka rakyat pun akan dikalkulasi dalam indeks dan persentase. Mereka akan berusaha menjawab persoalan-persoalan rakyat dengan mengacu pada apa yang diajarkan dalam diktat-diktat.

    Kita sedang berhadapan dengan—meminjam istilah penyair WS Rendra—“pendidik yang terpisah dengan persoalan kehidupan”. Mereka tidak mendidik muridnya agar mengerti tugasnya sebagai manusia, melainkan agar siap menjadi ‘sekrup’ dalam sistim kapitalisme.

    Padahal, kata Marx, pekerjaan yang mulia adalah memuliakan manusia, yang menjadikan tindakan-tindakan dan segenap usaha manusia menjadi lebih mulia, yang menjadikan diri manusia lebih kokoh, dikagumi oleh khalayak luas dan mencapai kemuliaan yang lebih tinggi lagi.

    Dengan semakin terkooptasinya kampus oleh kapitalisme, maka peran kaum intelektual pun makin bergeser keluar kampus. Dalam banyak kasus, di banyak negara, peran kritis itu diambil alih oleh penulis dan seniman. Merekalah yang biasanya bekerja sebagai penjaga nilai-nilai kemanusiaan yang paling dasar: kebebasan.

    Akan tetapi, di situ juga ada masalah: biasanya konsen pada penulis dan seniman, termasuk yang paling militan, adalah mempertahankan kebebasan individu dan kebebasan sipil. Mereka biasanya sangat sulit untuk menerobos kerangka moral dan terjun dalam perjuangan politik.

    Novelis hebat seperti Salman Rushdie, misalnya, sangat keras menentang fundamentalisme. Akan tetapi, sangat sulit mengharapkan dia berbicara soal hak-hak pekerja, penentangan terhadap imperialisme, dan lain-lain.

    Kita tahu bahwa ada masalah dengan keadaan sekarang. Tetapi sangat sedikit orang, khususnya kaum intelektual, yang mau menjelaskan keadaan ini kepada massa rakyat. Tugas intelektual saat ini adalah menjelaskan keadaan ini seterang-terangnya, dengan penjelasan yang gampang dipahami, kepada rakyat.

    Tugas kaum intelektual, khususnya yang disebut intelektual organik, adalah membela kaum yang tertindas melawan penindas. Dalam point ini, kita ingat kata-kata Marx, bukan sekedar memahami dunia tetapi mengubahnya. Akan tetapi, tidak ada orang yang dapat mengubah dunia sendirian, karena hanya massa yang bisa mengubah dunia; dan tidak seorang pun bisa mengubah dunia atau keadaan, jikalau dunia dan keadaan itu sendiri tidak dipahaminya. Di sinilah tugas kaum intelektual: memahamkan dunia kepada massa rakyat dan mengubah dunia bersama massa rakyat.

  7. Abang Jimmy maju terus saja ndak usah peduli ni GMKI manado.
    Ubtuk GMKI pusat coba ja kroscek kwa ini GMKI manado. Dorang ini ouportunis skali. Belum lagi depe korwil KJ alias kurang jelas.. Apalagi dpe kade2 ya ilah… Tu pengurs cabang sebagian besar ndak sesuai dengan Konstitusi. Bayangkan saja baru mape 3_4 bulan langsung jadi BPC. Padahal harsnya minimal 2 tahun.. Jangan heran kalu dorang itu’ mantah’ semua…

  8. Adoh, so lebe bekeng malo ini. Kalu Jimmy Tindi yang bukang DO tapi nyanda jelas pernah kuliah atou nyanda dapa lia lebe ada otak dari Donly Bilote, ini Unsrat memang so bekeng sayang (deng bekeng malo). Rupa gerombolan burung sawah. Depe mahasiswa asal malontok; depe dosen baku momake di mana-mana.

    Kalu samua ba pikir waras, di universitas yang paling penting: bicara, debat, diskusi, kong bekeng klar ini masalah deng metode yang butul. Kalu sedang berdebat Rektor atau ini pengurus BEM dodol ini nimau’, kong apa yang dorang boleh, dang?

  9. wah….rame….
    Flora dikritik, Jimmy dikroyok, Benny diserang…
    hebat2 lagi latar belakang, pribadi dan jabatan si pengkritik, si pengeroyok dan si penyerang!
    salam untuk semua!

  10. Yang kita tao jimmy tindy itu bukan di DO tapi memang nda jelas dia da kuliah ato nda. Hahahahahahahaha

  11. Di Unsrat apapun yang mustahil bisa terjadi, Bung. Ini bukan masalah dukung-mendukung Jimmy Tindi, tapi kemampuan Ketua BEM yang begitu parahnya.

    Untuk apa pula harus menghubungi dia? Memangnya siapa dia? Memangnya Ketua BEM Unsrat itu penting-penting amat untuj kemaslahatan orang banyak? Apa prestasinya sampai perlu dianggap penting? Di zaman ini gampang belaka jadi Ketua BEM. Lain soal kalau jadi seperti beberapa DO Unsrat yang justru jadi siapa-siapa di luar sana. Orang boleh tidak suka pada Benny Ramdhani, tapi dia adalah salah bukti DO sekali pun bisa lebih hebat dari yang sarjana.

    Kalau saya justru balik menantang Donly Bilote: Coba tuliskan pendapat dan argumentasi Anda, dan nanti kita debat dengan pendapat dan argumentasi tertulis pula. Biar kelihatan siapa yang dodol dan yang bukan.

    Tabea.

  12. Woooeee Donly rasa muntah kita da dengar nga pe kata2 pimpinan mahasiswa.. Pimpinanan BEM Le… Bwwweeekkkkk rasa mau muntah kita em.mm… Kita tau kasiang ngana itu Bogo2, sabata, asal malontok, dengan yg penting nyaring Mar isi nol. Stel2 bilang pimpinan mahasiswa… ngana bangga dengan yang memilih hanya 2000 suara dari 18000 suara… Kasiang… Knapa hanya sktran 2000 yang memilih Dan sektaran 18000 yang tidak memilih?? Depe jawaban satu. So dapa tau ngana pe bobo2 dengan ngana pe BODOK. Kita Le pernah di BEM waktu dewi-dewi yang berkuasa… Apalagi ngana ingusan bagitu… Musti banyak blajar ngana pa nga pe snior2… Kita rekom jow ne… Blajar spaya ndak opurtunis dengan ndak pragmatis tanya pa Fiko dpe Cara bagmana… Kalau mau bilang difisip hebat itu dia… Kita tau karna kita juga mahasiswa fisip jurusan administrasi.

  13. kantara yg kase komen negatif for GMKI adalah org2 yg iri dgn keberadaan organisasi tersebut, karna apa?? dorang itu sejenis ormas yg dp model ‘cinta’ dgn anarkis dan kekacauan. so tau toh ormas apa itu??? hehehehe……

  14. Pendukung Jimmy Tindi kalau anda merasa Donly Itu mempunyai pengetahuan pas-pasan silakan hubungi dia,dia selalu di kampus di fisip unsrat pasti semua kenal karena yang saya tau dia adalah mahasiswa yang lafal dan yang saya tau dia saat ini menjabat sebagai wakil ketua BEM Unsrat.Saya kemudian berbalik tanya kepada anda apa landasan anda sehingga anda mengatakan isdr Donly mempunyai kemampuan yang pas-pasan.Saya rasa juga musatahil orang yang mempunyai kemampuan pas-pasan terus memimpin mahasiswa unsrat yang notabene merupakan universitas kebanggaan sulu.
    Silakan Hubungi dia di kampus…..

  15. hahahaha….qta baru tau ternyata ini jimmy tindi cuma ada DROP OUT katun, tqira le biar sarjana ada kelar, ternyata bakoar2 cuma krna pesan sponsor dari doktor flora koten….hahaha…. GAMKI dengan GMKI ini, bukan organisasi sama dgn PKI…. :D

  16. Hahahahah Memang bagus kedua oknum tersebut ketemu dalam forum dan dibahas secara tuntas apa dan bagaimananya? cuma memang serangan jimmy ke institusi GMKI dan GAMKI perlu diklarifikasi dengan baik

  17. Betul itu bung Jimmy… Maju terus.. Dan jangn gentar… Drang2 ini kwa ndak pernah rasakaan tu perjuangan dengan rakyat.. Cman tau duduk2 dengan dengar.. So bagitu tongos lagi.. Apalagi ni donlly ini.. Spa ndak tau kwa… Kemampuan pas-pasan, bicara sabata. Baru mau Kase komen.. Bogo2 ngana memang.

  18. Penjelasan saya atas semua Komentar :
    Senin 13 Februari 2012 ketika saat saya bertandang ke Polda beberapa teman Pers meminta tanggapan saya soal statmen “GMKI yang meminta Benny Rhamdani jangan ikut campur soal Unsrat”.
    Ada beberapa poin yang sampaikan yakni:
    1. Saya binggung kalau GMKI memberikan pendapat yang kurang cerdas seperti itu karena; kapasitas Benny Rhamdani pada saat memberikan pendapat pada saat ada agenda Hearing antara Pihak Rektorat dan Tim 10 (yang saat ini ada pertikaian di Unsrat) dan saya amati posisi DPRD pada saat itu sangat Netral, Namun yang memicu konflik adalah ketika Rektor menyampaikan Kata “PROVOKATOR” bagi Tim 10 ini, Bung Benny tidak menerima kata-kata ini sehingga meminta Rektor mencabut ucapannya namun hal ini tidak di gubris.
    Saya ikut mempertanyakan sikap GMKI yang tiba-tiba masuk dan meminta bung Benny “tidak mencampuri urusan UNSRAT.
    2. Wajar kalau DPRD SULUT ikut prihatin dengan urusan UNSRAT karena UNSRAT juga ikut mencicipi dana APBD Provinsi Sulawesi Utara yang jumlah penduduknya kurang lebih 2 Juta orang termasuk saya.
    3. Kalau GMKI mengajak kita klaim mengklaim pada ranah “kepemilikan” UNSRAT hal ini perlu kita debatkan lagi dan saya menantang GMKI untuk hal ini.

    Demikian point2 wawancara saya, tapi kemudian di tafsir lain, Dedy. Donly, Saliim dll yg ikut nimbrung…saya tidak pernah mencari POPULARITAS dari issu seperti ini, kalau kalian ikuti rekam jejak saya dari 1992 menyusuri jalanan untuk sebuah perjuangan yang saat ini anda2 ikut menikmatinya juga termasuk kebebasan berbicara. Dan saat ini saya lebih menikmati berjuang dengan Rakyat Tongkaina, Sumompo, Kombos, Bumi Nyiur dll dalam mempertahankan hak-hak atas Tanah yang mereka , dan Puji Tuhan Tanah Sumompo di menangkan Rakyat di MA……….. dan saya tidak pernah mencari popularitas dari semua ini, anda-anda yang memimpin Organisasi kemahasiswaan seharusnya menjadikan kampus Menara Api dan bukan menara Gading…………..

    Salam Kasih
    Jim R. Tindi

  19. Setahu saya GMKI adalah organisasi yg telah lama eksis, di bangun oleh para founding fathers dengan tujuan membangun dan menjadi wadah aspirasi Mahasiswa kristen yang bisa mejadi ‘Gereja’ dan saling melayani.

    Sebagai mahasiswa Kristen yg kritis harus mampu menjadi teladan, lebih dahulu MELAYANI sehingga di sebut PELAYAN bukan menunggu DILAYANI sehingga menjadi PEJABAT. maka banyaklah yg ingin ‘melayani’ utk menjadi ‘Pejabat’.

    Ijinkan saya berpendapat seperti ini : Berjiwa besarlah dalam menyikapi dan JANGAN MENGHAKIMI apalagi menjadi alat Politik!
    tetaplah melihat Yesus yang adalah Juruselamat Karena GMKI tidak dapat melepaskan diri dari Karya Penyelamatan Allah terhaadp dunia dan alam semesta ini.

    Salam,
    Sam

  20. Hakikatnya semua insan manusia mempunyai hak untuk mengeluarkan Pendapat. Namun sangat tidak rasional apabila kebebasan berpendapat tersebut ‘by order’. Kalau memang Jimmy, atau Donly peduli dengan usrat bukan caranya berperang staitmen di media seperti ini. Lebih objektiv jika duduk bersama secara gentle. Sehingga terlihat siapa yang bisa mendapat penilaian baik oleh publik.

  21. Mahasiswa denganga dosen sama aja “””apalagi ibu flora seorang doktor tapi tingkahnya kaya anak SD””debat untuk kepentingan pribadi bukan utk kemajuan”””kamu ribut2 nanti PAMI dengar di lapor kamu samua nanti””baku bae jo kuak tidak usah pusing deng beny ramdani dia itiu buangan dari bandung”””

  22. Adoh kasiang ini Donly le. Mahasiswa UNSRAT bicara bagitu? Bukan saja dia merendahkan kualitas anak SMA dan orang2 yang DO, tapi kualitas komentarnya juga tidak mencerminkan seorang mahasiswa.

  23. Komentar Sekretaris Komisariat Politea GMKI Cabang Manado, Donly Bilote, kurang-lebih sama tidak bermutunya dengan Jimmy Tindi. Pemangku kepentingan Unsrat adalah semua pihak yang konsern dengan pendidikan; termasuk Jimmy Tindi yang drop out (DO).

    Kalau Donly Bilote bukan mahasiswa Unsrat, lebih celaka lagi; sebab dari sisi kepentingan Jimmy Tindi-lah (walau dia DO) yang lebih kuat. Nah, supaya juga tidak bikin malu GMKI, Donly saya rekomendasikan membaca “The Stakeholder Theory and Organizational Ethics”(Robert Phillips dan Edward Freeman, 2003).

    Tidak suka dengan Jimmy Tindi secara pribadi adalah satu soal; tetapi menyerang dia secara pribadi untuk isu publik, serta menyetarakan dengan anak SMA, juga sikap jumawa yang menunjukkan pengetahuan Anda justru lebih buruk dari Jimmy Tindi. Dari mutu komentar Anda, Donly, saya kuatir bahkan debat dengan anak SMA pun Anda bakal kalah.

    Satu hal lagi, tidak ada hubungan korelatif antara DO dan kepintaran; apalagi etika dan integritas. Terakhir saya cek, orang-orang jenius di bidangnya yang memberi warna paling gemilang dalam kehidupan manusia selama abad 20 hingga awal abad 21 ini, ternyata mereka yang Anda sebut DO. Anda tentu tahu Stave Job, Bill Gates, atau Mark Zuckerberg, kan?

  24. Hajar Wakil ketua BEM Unsrat, ini baru pernyataan dari aktivis mahasiswa dan pimpinan mahasiswa unsrat. kami mendukungmu.

BeritaManado.com: Berita Terkini Kota Manado, Sulawesi Utara