Berita Utama

Terjebak Sindikat Penipuan Online, Puluhan WNI Diperbudak dan Disiksa di Myanmar

Diiming-imingi gaji besar dengan penginapan dan makan lebih dari cukup, ratusan WNI ini justru berujung pada eksploitasi. Mereka dipekerjakan sebagai scammer daring untuk menawarkan investasi palsu.

Kemudian, Juni 2022, sebanyak 15 WNI diselamatkan dan dikembalikan ke kampung halamannya setelah tertipu iklan lowongan kerja bergaji tinggi di Laos.

Berdasarkan pemeriksaan, belasan WNI mengalami eksploitasi dan intimidasi yang berujung pada tekanan mental karena dipaksa bekerja 15 jam sehari. Mereka juga diancam akan dijual ke perusahaan lain menjadi pekerja seks, apabila tidak mencapai target penjualan investasi palsu

Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) mencatat, TPPO melalui sindikat penipuan online ini mulai diketahui sejak 2019. Saat itu, puluhan WNI terindikasi menjadi korban perdagangan manusia di Kamboja.

“Jadi sudah dari 2019 dan 2020,” kata Sekjen SBMI, Bobi Anwar Ma’arif kepada BBC News Indonesia, Jumat (28/04).

Bobi juga mengakui kasus dengan modus iming-iming gaji besar lewat media sosial ini, makin marak belakangan dan kemungkinan dilindungi aparat keamanan, dan pengusaha besar.

Bobi mengindikasikan hal ini berdasarkan kasus pencegahan 212 WNI yang akan diberangkatkan ke Kamboja pada Agustus 2022. Mereka akan diterbangkan lewat pesawat yang dipesan secara khusus.

“Dia sampai mencarter satu pesawat dari Medan ke Kamboja… Berarti ini mafianya hebat lagi,” katanya.

Untuk mengaburkan jejak perdagangan orang, lanjut Bobi, biasanya sindikat penipu menawari pekerja migran bekerja di satu negara dengan visa kunjungan, lalu diselundupkan ke negara lain.

Misalnya, awalnya ia ke Thailand, tapi langsung diselundupkan ke Myanmar melalui jalur darat atau sungai. Dengan demikian, pekerja migran tersebut tidak tercatat sebagai pekerja migran resmi di Myanmar.

Dalam kasus WNI di Myanmar, mereka diduga diselundupkan dari Thailand ke Myanmar. Dalam sebuah unggahan di akun IG @bebaskankami, nampak dua WNI sedang melintasi sungai dengan pendampingan seorang pria berpistol.

“Untuk mengelabui petugas imigrasi untuk kunjungan. Jadi memang trik seperti itu sudah lama,” kata Bobi.

Bobi menyebut Myanmar negara paling aman untuk sindikat penipuan online untuk “lebih leluasa mengeskplotitasi terhadap korbannya”. Dalam dua tahun terakhir Myanmar mengalami konflik setelah kudeta militer.

“Ini makin sulit ya. Kalau yang di Kamboja penanganannya relatif lebih mudah. Tapi karena situasi konflik di Myanmar akan lebih sulit,” kata Bobi.

Salah satu upaya yang perlu diperhatikan pemerintah untuk menekan kasus seperti ini berulang adalah pembentukan saluran resmi lowongan kerja di luar negeri. Ketiadaan saluran ini menjadi celah bagi sindikat penipu untuk merekrut korbannya.

“Sehingga para calo ini bisa leluasa menggunakan media sosial merekrut para korbannya,” jelas Bobi.

(Erdysep Dirangga)

BeritaManado.com: Berita Terkini Kota Manado, Sulawesi Utara