
Penulis : Ivan Xaverius | Sangihe
Maraknya penggunaan taksi gelap mulai dikeluhkan sopir mikrolet di Tahuna. Kondisi ini dinilai membuat angkutan umum kehilangan penumpang dan berdampak pada pendapatan harian sopir.
Salah satu sopir mikrolet, Enda, mengaku jumlah penumpang saat ini jauh berkurang dibanding sebelumnya. Menurutnya, banyak warga lebih memilih layanan antar jemput yang dianggap lebih cepat dan praktis.
“Sekarang penumpang sudah menurun. Kadang satu kali jalan tidak penuh seperti dulu,” ujar Enda.
Ia mengatakan kondisi tersebut berdampak langsung pada penghasilan sopir, sementara biaya operasional dan setoran kepada bos tetap wajib dibayar setiap hari.
Menurut Enda, keberadaan angkutan yang beroperasi di luar jalur resmi menciptakan persaingan yang dirasakan tidak seimbang bagi sopir angkutan umum.
“Kami berharap ada perhatian dari pemerintah supaya angkutan umum tetap bisa bertahan,” katanya.
Enda berharap ada penataan transportasi yang lebih baik, termasuk pengawasan terhadap layanan angkutan yang beroperasi tanpa aturan jelas agar tidak semakin meminggirkan sopir angkutan umum resmi.
Menurutnya, jika kondisi ini terus berlangsung tanpa penataan, keberlangsungan angkutan umum di Tahuna bisa semakin terancam.
