Kota Manado

Sosok Jeane Lalujan, Suara Perempuan dari Manado yang Tak Pernah Diam untuk Rakyat

Jeane Lalujan
Jeane Lalujan

Manado, BeritaManado.com — Di tengah dinamika politik Sulawesi Utara khususnya di Kota Manado, nama Jeane Lalujan, kini menjadi salah satu yang diperhitungkan.

Figur perempuan yang vokal, kritis, namun tetap santun ini duduk di DPRD Provinsi Sulut periode 2024–2029, mewakili Kota Manado dari Fraksi PDI Perjuangan.

Jeane menolak menjadi politisi yang hanya hadir di ruang sidang.

Ia memilih turun ke lapangan, menyapa rakyat, dan menyerap aspirasi secara langsung.

Dalam setiap langkahnya, selalu tampak keyakinan bahwa politik bukan sekadar perebutan kekuasaan, melainkan panggilan untuk melayani dan memperbaiki kehidupan masyarakat.

Dari Kepedulian Menjadi Panggilan

Sebelum dikenal sebagai politisi, Jeane lebih dulu dikenal sebagai sosok yang aktif dalam kegiatan sosial dan pelayanan masyarakat di Manado.

“Saya hanya ingin memastikan suara rakyat kecil tidak hilang di tengah hiruk-pikuk politik,” ujarnya suatu ketika.

Dalam forum DPRD, Jeane dikenal berani berbicara lantang soal ketimpangan dan pelayanan publik.

Ia menyoroti rendahnya serapan anggaran di sejumlah dinas dan mendorong pemerintah mempercepat perbaikan infrastruktur.

Sikap tegas itu dibarengi ketulusan.

Ketika menanggapi kasus pelayanan RSUP Kandou yang sempat menuai keluhan, Jeane menegaskan pentingnya nilai kemanusiaan di atas prosedur.

“Kesehatan bukan hanya tentang alat dan ruangan, tapi tentang bagaimana manusia memperlakukan sesamanya,” kata Jeane selalu diiringi solusi.

Ia menawarkan jalan keluar, bukan sekadar sorotan.

Hal inilah yang membuatnya dihormati, bahkan oleh mereka yang berbeda pandangan politik.

Jean Lalujan saat menerima aspirasi warga di Kantor DPRD Sulut
Jeane Lalujan saat menerima aspirasi warga di Kantor DPRD Sulut

Turun Langsung ke Akar Masalah

Saat Banjir melanda Kota Manado menjadi salah satu momen yang menguatkan citra kepemimpinannya.

Jeane turun langsung membawa bantuan.

Ia membagikan makanan, pakaian, dan kebutuhan pokok sambil berinteraksi langsung dengan korban.

“Empati itu tidak bisa ditunda,” katanya saat membantu anak-anak yang terdampak banjir.

BeritaManado.com: Berita Terkini Kota Manado, Sulawesi Utara