Delfison Pertama
Manado – Dalam berbagai kesempatan khususnya yang berhubungan dengan pendidikan seni budaya, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anis Baswedan selalu menghimbau kepada para seniman dan budayawan untuk kembali ke sekolah, menginspirasi dan mendidik para siswa untuk memahami seni dan budaya daerahnya. Pihak sekolah juga diminta untuk meningkatkan porsi pendidikan seni dan budaya.
Himbauan Anis Baswedan diapresiasi oleh para pelaku seni yang juga mengabdikan diri sebagai tenaga pendidik. Tapi menyayangkan peran pemerintah, termasuk didalamnya Dinas Pendidikan yang terkesan tidak paham.
“Himbauan yang selalu disampaikan Pak Menteri selalu jadi perhatian kami. Kami sepakat dengan beliau. Karya seni yang tercipta dengan sendirinya akan membentuk karakter anak didik menjadi manusia Indonesia yang menjunjung nilai-nilai budaya bangsa sehingga melalui karya seni akan terwujud tujuan dari UUD 45, antara lain berbudi pekerti luhur serta mencerdaskan kehidupan bangsa,” ujar pegiat seni Delfison Pertama kepada BeritaManado.com, Jumat (18/9/2015).
Lanjutnya, hal ini perlu didukung dengan fasilitas yang memadai, terutama adanya ruang kesenian di setiap sekolah.
“Ruang kesenian bukan sekedar ruang tempat latihan, tapi merupakan ruang inspirasi baik bagi guru kesenian atau seniman dan budayawan untuk melatih anak didik menciptakan karya seni kreatif dan berkualitas. Namun sayang, fasilitas yang penting bagi pendidikan seni dan budaya kurang mendapat perhatian dari pihak sekolah dan pemerintah.
Buktinya, banyak sekali sekolah di Manado yang tidak memiliki ruang kesenian. Mengapa bisa seperti ini? Inilah yang menjadi pergumulan bagi guru, seniman dan siswa yang punya bakat dan talenta dari Tuhan. Tapi hal ini juga menjadi renungan bagi pemerintah dan kita semua. Semoga bukan hanya jumlah prestasi yang jadi perhatian tapi juga proses pembinaan sejak usia sekolah,” tandasnya. (srisurya)

