Di Eksekutif beliau pernah jadi menteri di dua presiden, yakni saat Presiden Gus Dur (Abdurrahman Wahid) dan Presiden Jokowi (Joko Widodo).
Mahfud juga menguasai pengetahuan keagamaan dan intelektual hukum secara sempurna.
Pada saat ditetapkan sebagai cawapres, Prof Mahfud menyatakan akan menggunakan segala pikiran dan pengetahuannya jika akan terpilih.
Ganjar berpotensi tidak akan leluasa menyesuaikan dengan gaya kepemimpinan Prof Mahfud.
“Bisa jadi, ini akan ada semacam dua matahari dalam kepemimpinan pemerintahan,” ujarnya.
Fenomena semacam ini, kata dia, pernah dialami SBY dengan Jusuf Kalla.
Akibatnya SBY tidak melanjutkan kepemimpinan bersama dengan pak Jusuf Kalla di jabatan periode kedua.
Sedangkan untuk Anies, Ferry menyebut, bukanlah kader parpol, apalagi ketua parpol.
Kesulitannya adalah tidak semua apa yang ia janjikan saat kampanye akan benar dibuktikannya pada saat berkuasa.
Sebab keinginannya itu harus mendapat restu dari parpol yang mengusungnya terutama Nasdem.
Sehingga kemungkinan besar apa yang bisa dilakukan Anies ketika berkuasa adalah proposal politik dari parpol yang mengusungnya.
“Kecerdasan yang Anies miliki akan kalah dengan kepentingan pragmatis parpol yang mendukungnya,” tandas Ferry.
Dari sisi-sisi kelemahan di atas, kata Ferry, ketiganya memiliki tipologi yang sama, yakni sama-sama sebagai penguasa boneka.
“Ketiganya tidak akan bebas karena diduga hanya akan merepresentasikan kepentingan Joko Widodo, Megawati Soekarnoputri, dan Surya Paloh ketika akan berkuasa,” pungkas Dosen Fisip Unsrat ini.
(***/jenly)
