Opini

Rivalitas yang Kebablasan?

Renwarin (2007) dalam kajiannya tentang “Tou Minahasa”, menguraikan bahwa harmoni dan perseteruan/rivalitas adalah dua prinsip yang saling bertentangan yang dijumpai pada kebanyakan masyarakat Indonesia.

Harmoni lazim dipertahankan sebagai suatu citra publik.

Tetapi bila ini terus menerus ditekankan, biasanya itu berarti di balik permukaan, perseteruan sedang mengancam dan membahayakan hidup komunal penduduk.

Fakta tersebut, misalnya menguraikan situasi persaingan tou Minahasa, tetapi bahwa ketika harmoni dalam komunal orang Minahasa ditekan terus menerus, itu berarti perseteruan sedang mengancam dan membahayakan.

Maka dari itu, nyatalah bahwa rivalitas itu sesuatu yang lumrah, namun ketika hal itu kebablasan, maka sikap tidak etis justru yang mengemuka.

Oleh karena itu, seharusnya persaingan, dan lainnya itu merupakan rentetan pengolahan sikap menghayati hidup dengan pertimbangan akal budi mengenai cocok tidaknya dengan bentuk fisik, peradaban, bahkan kultur budaya, tingkat pendidikan, keadaan sosial masyarakat, serta cita-cita ke depan mengenai makna atau arti hidup.

Adapun sikap yang bisa digunakan dalam mengolah hal tersebut adalah mempunyai pendirian terhadap perkembangan zaman, mampu menyesuaikan dengan zaman dengan tetap tidak meninggalkan nilai-nilai budaya dasar.

Kemudian hal yang penting juga adalah sikap adaptasi yang berarti menyesuaikan terus dengan tawaran-tawaran ide dan citra modis yang disesuaikan dengan kondisi sosial ekonomi dan kultural.

Akhirnya, ketika pengetahuan pun rasionalitas tidak digunakan untuk transformasi yang bertujuan untuk perkembangan peradaban bersama maka di ruang bersama terjadi perang kepentingan.

Karena itu, untuk menyelamatkan ruang bersama agar tetap seiring sejalan dalam arti orang secara fair menghayati hidup bersama dengan menghormati harkat dan ruang-ruang pribadinya dalam pertemuan bersama dibutuhkan syarat utama, yakni dialog terbuka untuk membuka kepentingannya secara komunikatif.

Dialog adalah jalan yang kurang lebih bisa mendamaikan konflik kepentingan individu.

Demikian juga komunitas/kelompok/perkumpulan itu harus disadari, dibangun atas dasar perjumpaan timbal balik.

Dengan demikian, tempat yang paling real bagi aktualisasi diri manusia, yakni komunitas/kelompok/perkumpulan yang selalu terbuka pada dialog.

Jika ada dialog, maka persaingan yang tetap ada dan tak bisa dihindari itu justru memperkuat dan bukan menghancurkan.

(***)

BeritaManado.com: Berita Terkini Kota Manado, Sulawesi Utara