
Aksi yang berlangsung damai ini dipicu oleh kekecewaan para tenaga medis terhadap sejumlah kebijakan yang dinilai tidak berpihak pada nakes, meski mereka telah lama mengabdikan diri dalam pelayanan kesehatan masyarakat di wilayah kepulauan sangihe.
Dokter spesialis RSUD Liunkendage, dr. Cheni Polawitang, yang menyampaikan pernyataan mewakili para demonstran, menegaskan bahwa langkah ini diambil sebagai bentuk perjuangan atas hak yang selama ini belum terpenuhi secara adil.
“Kami telah lama bekerja dan mengabdi di Sangihe. Aspirasi yang kami sampaikan hari ini merupakan hak kami sebagai tenaga kesehatan yang menginginkan keadilan,” ungkap dr. Cheni.
Dalam penyampaiannya, dr. Cheni menjelaskan terdapat tiga poin utama tuntutan yang disuarakan para tenaga kesehatan.
Tuntutan pertama adalah penolakan terhadap rencana pengalokasian anggaran perhitungan unit cost sebesar Rp100 juta. Menurut mereka, dana tersebut lebih tepat digunakan untuk kebutuhan mendesak seperti pengadaan obat-obatan demi menunjang pelayanan kepada masyarakat.
“Kami menilai anggaran Rp100 juta untuk unit cost terlalu memberatkan. Lebih baik dialihkan untuk pembelian obat-obatan yang langsung dirasakan manfaatnya oleh pasien,” tegasnya.
Poin kedua, para nakes menolak perubahan skema pembagian jasa pelayanan yang sebelumnya telah disepakati bersama secara internal dan juga telah dibahas dalam forum resmi bersama DPRD.
“Kesepakatan yang sudah dibangun bersama jangan diubah sepihak. Pembagian jasa pelayanan itu sudah melalui pembahasan dengan dewan,” tambahnya.
Sementara tuntutan ketiga menyangkut kesetaraan Tunjangan Penghasilan Pegawai (TPP). Para tenaga kesehatan RSUD Liunkendage meminta agar TPP paramedis rumah sakit disamakan dengan paramedis yang bertugas di puskesmas.
“Beban dan tanggung jawab kami sama besarnya. Sudah seharusnya TPP paramedis RSUD disetarakan dengan paramedis puskesmas,” kata dr. Cheni.
Melalui aksi ini, para tenaga kesehatan berharap pemerintah daerah dan DPRD Kabupaten Kepulauan Sangihe dapat membuka ruang dialog dan menindaklanjuti tuntutan yang disampaikan.
“Kami berharap jerih lelah tenaga kesehatan sebagai garda terdepan pelayanan publik tidak diabaikan,” pungkasnya.
(Ivan Xaverius)
