
Oleh: Jackson Kumaat
POLITIK – Judul diatas seperti pilihan untuk memakan buah simalakama. Sebuah pilihan sulit di masa ekonomi sulit. Karena seluruh rakyat mendambakan pemimpin bersih yang dermawan. Untuk menjadi pemimpin di negara demokrasi khususnya di Indonesia, harus mengeluarkan cost politic yang cukup tinggi. Tak sedikit calon pemimpin berkualitas otak dan kinerjanya, harus mengakui keunggulan kompetitor di ajang pemilihan umum kepala daerah atau Pemilukada.
Saya adalah salah satu contoh calon kepala daerah yang gagal di ajang pilkada Manado tahun 2010 lalu. Tapi, di tulisan ini saya bukan ingin curhat atau berkeluh kesah tentang Pilkada yang saya alami. Bagi saya, yang lalu biarlah berlalu karena hari esok penuh dengan misteri.
Kembali ke topik di atas. Benarkah rakyat mendambakan pemimpin yang dermawan? Menurut saya, berdasarkan pengalaman kawan-kawan anak muda yang pernah (atau sedang) bergelut di dunia politik, jawabannya adalah, ya.
Tapi persoalannya adalah, sulit menemukan calon pemimpin atau pemimpin yang gemar berbagi ke rakyatnya. Jika pun itu ada, ‘masa waktu’ berbagi sangat terbatas dan ada kadaluarsanya. Harta kekayaan pemimpin dermawan itu
terbatas. Jumlahnya bisa merosot tajam, seiring dengan intensitas kinerja pemimpin tersebut bertemu dengan masyarakat.
Semakin banyak acara yang digelar, maka semakin banyak uang yang dikeluarkan sebagai cost politic. Belum lagi, jika pemimpin dikelilingi sejumlah penjilat dan penipu yang ingin mencari kesempatan ‘proyek kecil-kecilan’.
Adalah sangat sulit berpijak pada prinsip anti-korupsi, tapi disaat yang sama ada tuntuan cost politic.
Bagaimana mungkin pemimpin harus mengaudit keuangannya agar tak bocor, sedangkan disaat yang sama harus ‘membayar uang siluman’? Jika tak dibayar, maka dikhawatirkan akan mengganggu hubungan dengan konstituen. Sementara jika dibayar, maka akan didekati oleh aparat, termasuk petugas KPK.
Disinilah saya ingin berpikir jernih terhadap kasus yang dialami Walikota Bekasi Mochtar Mohammad. Ia dibebaskan oleh Pengadilan Tipikor di Bandung, setelah beberapa waktu lalu ditangkap KPK. Kader PDI-Perjuangan itu tiba-tiba jadi topik pembicaraan, apalagi KOMPAS terbitan hari ini memuatnya di headline dengan judul ‘Putusan Bebas Sudah Diduga’.
Di tulisan saya sebelumnya, ada dugaan ‘permainan’ dalam dibebaskannya Mochtar dari segala tuntutan hukum. KPK-pun di ujung tanduk. Apakah harus mengalah, atau naik banding. Menurut kabar sejumlah kawan saya yang
pernah menjalin hubungan dengan Pak Mochtar, politisi kelahiran Gorontalo ini dikenal dekat dengan masyarakat. Ia selalu diterima dari berbagai lapisan, meski warga kota Bekasi mayoritas berasal dari suku Sunda.
”Beliau baik hati,” begitu sumber saya berkomentar tentang sosok Mochtar Mohammad. Muncullah pertanyaan saya. Apakah jika baik hati ke masyarakat, lantas boleh korup?
Pertanyaan ini tak mampu dijawabnya. Saya jadi teringat kasus yang dialami Walikota Manado Jimmy Rimba Rogi dan Gubernur Sumatera Utara Syamsul Arifin, yang kini mendekam di penjara lantaran kasus korupsi. Mungkin, sebagian warga kota Medan atau kabupaten Langkat Sumatera Utara sangat mengenal betul dengan sosok bersahaja Pak Syamsul. Pun demikian dengan sebagian warga kota Manado yang ‘terkejut’ dengan penahanan Pak Imba.
Lain lagi dengan Bupati Boven Digoel Propinsi Papua, Yusak Yaluwo, yang justru memenangkan Pemilukada, saat yang bersangkutan ditangkap dan masuk penjara. Bisa jadi, ini menandakan kecintaan rakyat terhadap pemimpin dermawan meski korup.
Semoga, kisah dan pengalaman para pemimpin ini bisa menjadi inspirasi bagi siapa saja yang berniat masuk bursa calon di ajang Pemilukada atau Pemilu. Setiap calon pemimpin harus ‘memancing uang’ demi kemenangan Pemilukada. Sedangkan jika terpilih masih melakukan hal yang sama.
Sama dengan warga pesisir Barat Melayu yang ditanya jika harus memilih buah simalakama, jawabannya kira-kira begini, ”buah itu akan dijual ke orang lain, karena akan lebih menguntungkan”. (*/jry)

hargai orng yg memiliki argumen, tanggapi dgn argumn logis jngan cma mencibir, itu tnda tak mampu! Jackson itu msh muda tpi tdk brgntung kpda orng tua, dia itu pngusaha sukses, SHS pke pa dia krena dia bnyak link pengusaha dri luar negeri.. seorang gubernur nda mungkin pke staf khusus yg tdk ada kontribusi uth dirinya..
Aaahhh si Jacko itu lg nyari muka,spy nt dipilih klo dia mencalonkan diri ga tau sbg walikota or gubernur,stay di jkt mau sok campur dan sok tau masalah kota manado,tau apa sih?
jangan di download,qt p komen taganti bgtu secara otomatis.
@Aceng: betul itu, ceng! Kong yg lebe lucu le ini pendeta2 ja pi doakan tu pemimpin daerah yg so dapa loku lantaran korup hahahaha… Mo doakan apaa???? Mo doakan spy nda dapa tau bakorupsi??? Nda war2 mmg eh!!
Masih bau kencur di kenal karena nama besar Bapaknya, tidak mengenal Manado secara dalam tapi bikin ulasan yang macam2, no comment dengan ulasan itu.
soal budaya berpolitik di SULUT lei so rusak, sapa bilang di SULUT yang terbaik????? Malah ranah2 politik di SULUT so sampe maso ke ranah spiritual. Lia jo itu Walikota/Bupati di mana2 dikerubungi oleh “para pendeta” deng “pendoa syafaat”, paling rohani itu Bupati2 Mitra deng Minsel. Tapi sebagai Bupati2 yang katanya rohani lia2 jo: apa dorang ada berpihak ke masyarakat pe kesejahtraan?????
Pilih jo Pemimpin yang sederhana dan dermawan!!!!!
Imba is the best, seng ada lawang, trg biar pedagang kaki 5 yg dia ada user tu lalu mar trg tetap sayang pa imba karna dia yg bkg bagus ini kota, lebe sadap le kwa bajual di pasar, dari pada di leter T, makanya trg ganas skali pa KPK….deng drg kwa nyanda butul, nanti TUHAN adili pa drg,,,,,
Viva pak IMBA….trg tunggu di manado, dtg bkg bagus ulang trg pe kota tercinta
Lihat jo kiri kanan di Sulut tu aparat2/pejabat korup petantang-petenteng dengan bangganya tampil di mana2..So dorang itu embrio2 pemimpin masa depan yang lebih korup.
Klu mo lia ini komen2, qta ambe ksimpuln kbanyakn tmn2 ini pragmatis, yang namanya korupsi itu lebih kjam dari pmbunuh. Pmbunuh cuma bunuh satu atau sadiki orang, mar korupsi sama dgn bunuh banyak orang, lantaran korpsi rkyat mnderita.. Makanya torang jgn talalu byak ba minta/kse maso proposal pa pemimpin daerah, klu anggaran sosial so abis, pasti dorang ambe di pos laeng, makanya itu jadi korupsi paling kurang penyalahgunaan keuangan.. jadi klu ada pejabat ba korupsi lebih kurang torang sebagai rakyat juga ikut menikmati hasil korupsi..
Nda usah terlalu berpolemik dengan siapa korup-siapa nda..
Ini negara super korup siapa saja bisa terjerat dan melakukan korup.
banyak sekali pemimpin atau politisi yang terjebak dengan keadaan ini..
Anda kalau sudah masuk di coruption circle ini pasti susah mengelak dengan tindakan2 korup dan kkn, sangat bisa skali apabila partai/boss anda secara tidak langsung meyakinkan anda bahwa nothing goes wrong…..
Saya memilih lebeh bae out dari lingkaran ini..
Banyak juga pemimpin yang pura-pura pelit supaya orang tau nda ada uang (nda korup) tapi akhirnya korup!
Itu yang terjadi sekarang kenapa rakyat lebih memilih yang dermawan tapi nanti korup karna dianggap itu lebih baik dari pada nda dapat duit, sudah disupport dengan anti korupsinya tapi ujung2nya KKN and korup.
Banyakan mana Pemimpin Dermawan Tapi Korup, Pemimpin Bersih tapi Pelit? Sya nda tahu oommmm
Yang saya tahu yang paling banyak itu pemimpin yang pura2 bersih tapi pemakan uang rakyat.
OOT, si Jacko ini kerjanya apa sih? Kalo pengusaha, bidang apa?
Koq kayak gak ada kerjaan sih? Cuma nulis opini doang di koran kerjaannya….
yang penting royal mar maju, bukang royal ambor-ambor uang negara….jangan salah pilih, asal pambae dekat deng masyarakat, nyanda koncudu, pinter, profesional,….nyanda gampang dijilat, bertanggungjawab, GBU all
“Ambil saja uangnya, jangan pilih orangnya”.Potongan lirik lagu ini sering terdengar di waktu-waktu Pilpres,Pilkada atau Pil..Pil lainnya.
Lalu, apa gunanya membeli suara lewat kampanye, kalo toh akhirnya nggak dipilih ? Di mana letak kesalahannya ?
Kesalahan terletak pada cara fikir dan praktek politik kebanyakan pengincar kekuasaan di negeri ini. Mereka percaya bahwa, meraih suara mau tak mau harus dengan uang! Akar penyebab kesalahan suda ketahuan.Yakni nafsu keinginan menggenggam kekuasaan dengan instant.
Karena sudah terbiasa mendidik pemilih atau calon pemilih dengan money politics akibatnya lahirlah buah bernama si malakama.
Bukan uang atau janji sorga.Tapi karya nyata yang mendorong rakyat menuju kesejahteraannya tanpa ada KKN atau pungli di mana-mana dan dalam setiap detik langkah mereka.
Saya masi ingat keluh kesah pedagang kaki lima di kompleks perdagngan 45 Kota Manado. “Kong kita so molai usaha kecil-kecilan, suda dapa tagihan dari RT,RW,Lurah,Camat bahkan dari dorang pe bos bernama Walikota.Padahal dorang so hidup sanang, banya doe.Pe mar ley!”.
“Ambil saja uangnya, jangan pilih orangnya”.Menjadi nyanyian tak merdu di telingan politkus negeri ini.
Satu lagi.. Mungkin Pak Jackson lupa atau memang segaja tidak mau menulis… Walikota Tomohon Jefferson ‘Epe’ Rumajar memenangkan Pemilukada Kota Tomohon meskipun telah ditahan KPK…
Ada satu paradigma.. rakyat mungkin lebih suka pemimpin yang korup namun dermawan dengan TEROBOSAN yang NYATA… Catat!!!… Pak Imba, saat menjabat Walikota Manado berhasil membersihkan dan menata PASAR 45… Skrng Pasar 45 jadi CAPARUNI ulang…. Bisa saja Jika Pemilukada Manado di ulang saat ini dan Pak Imba boleh mencalonkan diri, PASTI IMBA TA PILIH ULANG… Bravo Pak Imba.. Rakyat Manado masih merindukanmu..
Kedua, dengan ide-idenya.. Epe berhasil memajukan Tomohon sama deng skrng… contohnya Tomohon Flower Festival (TFF) meskipun akhirnya terjerat.. Dan sama deng Pak Imba, kalo Pemilukada di Tomohon kong Epe boleh iko… mungkin saja Epe menang…. Enjoooyyyyy????? Yessssss….
Kita bukang BELA orang yang oleh KPK telah ditetapkan sebagai koruptor… namun mungkin saja itu realitas yang jadi saat ini…
tunggu Koreksi dari tamang”…. Syaloommmm…. :D
Susahnya di Indonesia, orang kebanyakan melihat sosok seorang yang terbaik adalah berdasarkan apa yang dia punya dan apa yang dia bisa berikan. Bukan apa yang yang dia mampu dan dapat kerjakan. Sedih sekali saat ini menjadi pemimimpin di Indonesia itu seolah “terlalu mudah”. Cukup yang penting berantas korupsi dan membantu rakyat kecil. Jadi tidak perlu pikirkan bangun sekolah/universitas, bangun jalan, mengembangkan daerah wisata, membuat banyak lapangan kerja dsb. Kasarnya kalau saya simpulkan sebagian rakyat di sini tidak perlu apa-apa selain diberi makanan dan uang. Tapi itupun juga tidak banyak yang berhasil membantu rakyat miskijn dan memberantas korupsi. Mengapa sampai banyak pemimpin yang korupsi di sini? Bagi saya adalah karena sejak kecil rakyat kita sudah terlalu dibuai dengan cerita2 sejarah di sekolah mengenai raja-raja di masa lampau yang bisa memperkaya diri dan mendapat upeti dari rakyat. Sehingga itulah yang menjadi bayangan tiap orang Indonesia: Menjadi orang yang berhasil=menjadi seperti seperti raja-raja di masa lampau. Makanya tidak heran, seperti bung Roger katakan, ketika orang mendapat jataban dia memperkaya diri.
Dua dua nya jangan pilih
Di Amerika,seseorang yang inign mencalonkan diri menjadi kepala daerah atau presiden adalah orang-orang yang sudah pengalaman di partai politik atau di parlemen,atau para pengusaha sukses yang memang memiliki banyak uang.Yang mereka cari adalah kebanggan bukan kekayaan.
Di Indonesia lain lagi,seseorang akan berlomba-lomba mati-matian mempertaruhkan segalanya agar bisa menjadi kepala daerah,tujuanya tidak lain dan tidak bukan untuk MEMPERKAYA diri….
Ulasan yang sangat bagus Pak Jackson.
tapi kalau disuruh memilih “Pemimpin Korup yang Dermawan atau Pemimpin Bersih Tapi Pelit?” saya akan abstain atau tidak memilih,
Kenapa? karena bukan kedua pilihan yg diajukan bapak yg menjadi pilihan rakyat.
contoh kasus yg bapak paparkan diatas adalah realitas di lapangan yg tidak bisa kita tutupi (di Jawa). tapi, dari pada kita melihat pilihan yg bapak ajukan lebih baik kita melihat “Kenapa Masyarakat seakan – akan lebih menyukai Pemimpin yang korup tapi Dermawan?”
Hal tersebut terjadi karena kesenjangan sosial dan ekonomi yg sangat tinggi. rakyat menderita karena harga yg mahal, dan biaya hidup tinggi serta banyak faktor2 sosial lainnya.
rakyat jadi miskin dan sengsara, sehingga membutuhkan seorang “Sinterklas” yg sangat2 di politisir oleh para politikus2 busuk (mudah2an anda tidak berada di kaum ini) saya kasih contoh utk daerah Jakarta. para urban dari desa2 yg ke jakarta di pelihara oleh politisi walaupun sudah sangat memburukkan pemandangan kota serta menyebabkan Penyakit masyarakat dengan tinggal di kolong jembatan dll. kenapa? jawabannya adalah itulah KONSTITUEN. politisi akan datang seperti sinterklas utk membagi2kan sembako agar bisa dipilih lagi. mudah2an hal2 tsb tidak terjadi di SULUT karena tingkat pendidikan SULUT sudah sangat tinggi.
Jalan keluarnya sudah ada, Berantas KORUPSI !!! dan tegakkan Supremasi Hukum, kalau kita mulai sekarang akan sangat mensejahterakan baik hari ini dan akan lebih terasa di masa yg akan datang, lakukan ini untuk anak cucu kita.
Karena “Seorang Pembunuh bisa membunuh beberapa orang, tapi KORUPTOR melenyapkan satu Negara”
Salam Kasih,
Sam