BITUNG—Imbas negatif dunia maya atau internet rupanya tidak hanya berdampak pada siswa sekolah, tapi juga orang dewasa, terutama kaum perempuan. Buktinya, menurut pengakuan ketua LSM Pusat Penanggulangan Informasi KDRT, Trafficking dan Perlindungan Anak (Puspikta) Kota Bitung, Merry Supit, sudah banyak wanita muda yang menjadi korban dunia maya.
“Mudusnya tak lain adalah menjalin hubungan atau pacaran lewat internet yang berujung pada kesepakatan untuk menikah. Tapi kenyataannya, ketika si perempuan bertemu di suatu kota yang disepakati, malah dijual atau dipekerjakan sebagai wanita penghibur oleh lelaki yang selama ini mengubar janji manis,” jelas Supit, Rabu (17/8).
Menurut Supit, para pelaku pada umumnya mengaku berada di luar negeri yang mencari korban perempuan yang memiliki minat chating lewat internet. Kemudian menjalin hubungan kendati hanya lewat dunia maya dan hanya melihat muka dan bentuk fisik dari foto saja. Bahkan lebih ironinya lagi menurut Supit, pelaku tak segan-segan mengutarakan untuk menikah dan akan datang melamar korban.
“Tapi sebelum pelaku menemui korban, pelaku meminta untuk dijemput di Jakarta atau Surabaya atau kota besar lainnya dengan dalih akan bersam-sama menuju kota asal koran. Malah ada juga pelaku yang mengirimkan unang tiket ke korban untuk datang ke suatu Negara atau kota yang kemudian dijual,” kata Supit.
Tak hanya itu, menurut Supit, ada korban yang terlebih dahulu diperas oleh pelaku sebelum mereka bertemu. Dimana pelaku berpura-pura mengalami masalah disuatu Negara dan meminta korban untuk mengirimkan uang untuk melakukan pengurusan surat-surat agar tidak dideportasi.
“Ini merupakan modus baru trafiking yang harus diwaspadai karena jelas sudah menggunakan internet yang jelas sulit dilacak pelakunya,” tegasnya.(en)
