“Klaster wilayah soal kerawanan pemilunya masih makin lebar. Dan varian baru. Karena ini belum terjadi di pilkada sebelumnya (adanya pemilih terkena imbas Covid-19). Di saat bersamaan, Bawaslu akan makin direpoti dengan klaster pemilih model ini,” tambah Dian Permata.
Untuk jenis pilihan, apakah uang atau barang yang diinginkan oleh pemilih jika ditawari politik uang maka untuk Sumatera, uang 64,26 persen dan barang 35,74 persen.
Kalimantan 67,72 persen uang dan 32,28 persen barang. Jawa, 76,14 persen uang dan 23,86 persen barang.
“64-76 persen memilih uang ketimbang barang. Ini dilatarbelakangi alasan praktis dan dapat dialokasi sesuai kebutuhan si pemilih. Tentu saja ini juga pastinya linear dengan keinginan si calon pemberi jika ingin menawari. Mudah dan simpel,” ujar Dian lagi.
Untuk kategori barang, maka dominan menginginkan sembako.
Sumatera 52,53 persen. Kalimantan, 55,43 persen. Jawa 68,25 persen. Sedangkan untuk bibit/pupuk/alat pertanian dan bibit/pakan/alat perikanan, Sumatera 32,32 persen. Kalimantan, 27,17 persen. Jawa 11.11 persen.
“Seperti pada riset kami sebelumnya yang bertemakan politik uang maka ada irisan momentum antara pelaksanaan pilkada dengan musim tanam atau musim bibit perikanan di karakteristik daerah pertanian dan perikanan atau dengan musim hujan atau musim kemarau, ” lanjutnya.
Adapun besaran yang diharapkan pemilih kategori uang, di atas 100 ribu, di Sumatera, 22,47 persen. Di Kalimantan, 39,89 persen.
Di Jawa, 64,17 persen. Kendati demikian kata Dian, yang perlu diperhatikan penyelenggara pemilu, terutama Bawaslu, pengaruh jual beli suara itu dapat berlanjut kepada preferensi pilihan politik si pemilih.
Untuk Sumatera, si penerima politik uang mau mengikuti arahan pilihan politik si pemberi 54,15 persen. Kalimantan, 60,35 persen. Jawa, 49,62 persen.
“Di sini pola terlihat. Ada yang menerima politik uang ataupun barang. Tapi tidak semua si penerima itu mau mengikuti arahan pilihan politik si pemberi. Dia hanya memanfaatkan momentum pilkada untuk mengeruk keuntungan semata,” tutup Dian.
(***/Finda Muhtar)
