Bagian perempuan masih sampai pada penyelesaian administratif ataupun hal-hal teknis.
Padahal sebagai kader partai politik seharusnya semua kader mendapat akses dan kesempatan yang sama tanpa memandang jenis kelamin atau latar belakang lainnya.
Bahkan masih ditemukan partai politik yang terhadap penempatan kader perempuannya masih terjebak pada citra fisik, bahwa perempuan ditempatkan di depan karena memiliki regulasi dan standar kecantikan masyarakat pada umumnya.
Ada juga standar keturunan, di mana perempuan bisa mendapat peran penting dalam partai politik ketika didalam dirinya mengalir darah biru penguasa atau pimpinan.
Suka tidak suka gambaran terkait hubungan perempuan dan Ppolitik memang belum sampai pada cita-cita dan amanah undang-undang.
Ada banyak hal remeh temeh lainnya yang akhirnya membuat peran perempuan di panggung politik menjadi terabaikan dan hanya di lirik saat dibutuhkan.
Padahal andai saja partai politik sebagai rumah asal mampu mengolah dan memberdayakan potensi kader-kader perempuannya dengan baik lalu diberi dan dibukakan ruang yang sama, tidak mustahil kita akan melihat ada banyak perempuan-perempuan hebat di panggung politik Indonesia.
Sayangnya, lagi-lagi masih banyak anggapan bahwa politik adalah dunia laki-laki.
Oleh: Nurjannah Seliani Sandiah,S.Psi, Sekretaris DPW Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Provinsi Sulawesi Utara
