Penulis : Prof Ishak Pulukadang (Guru Besar Ilmu Politik Unsrat, dan Guru PKN SMK Nusantara Tondano).
Figur blusukan atau mantan komandan, yang konsisten Pancasila Versi Ir Soekarno atau Pembukaan UUD 1945 ?
Pemilu Capres/Cawapres tahun 2014 ini menarik untuk dibahas karena selain hanya ada dua calon bersaing juga karena keduanya memiliki latar belakang yang berbeda.
Pertama : Yang pasangan Jokowi- JK dua figur sipil yang pengusaha kemudian pernah menduduki jabatan sebagai pejabat publik yang satu mantan walikota dan pejabat Gubernur DKI yang wakilnya selain pengusaha sukses juga mantan wapres bersama SBY. Dilihat dari dukungan partai Jokowi-JK dari PDIP/Golkar ,keduanya nasionalis.
Sedangkan pasangan bung Bowo-Hatta yang satu mantan militer yng pernah menjabat Ketua Umum Himpunan Keukunan Tani Indonesia (HKTI) juga pengusaha, yang wakilnya mantan menteri perhubungan dan menko perekonomian. Yang satu dari partai Gerindra dan yang wakilnya dari PAN. Kedua partai ini bersifat nasionalis.
Dari profil mereka itu kedua pasangan ini jelas-2 menunjukkan punya pengalaman dalam kepemimpinan, yang pasangan nomor urut 2 berpengalaman sbg kepala daerah dan wapres yang nomor urut 1 berpengalaman dalam bidang pemerintahan dibidang keamanan dan menteri. Jadi kedua pasangan capres ini penuhi syarat berpengalaman dalam pemerintahan.
Kedua : Dari aspek idiologi partai keduanya berwawasan nasionalis dalam arti kesetiaan tertinggi mereka terutama pada negara tanpa membeda-bedakan suku, agama , ras dan golongan. Hal ini diindikasikan oleh patner mereka dalam struktur pemda untuk Jokowi di Solo dan DKI dan dalam lingkungan keluarga untuk Bung Bowo karena ibunya dari Minahasa. Selain itu dari aspek idiologi partai keduanya berdasarkan idiologi politik Pancasila.
Hanya untuk PDIP konsisten dengan Pancasila Versi Ir Soekarno dengan susunan dan rumusan Pancasila yang dipidatokannya pada sidang Paripurna BPUPKI tanggal 1 Juni 1945 yang sila pertamanya Kebangsaan Indonesia dan sila kelimanya Ketuhanan yang berkebudayaan serta bisa diperas menjadi satu sila saja yaitu Gotongroyong. Sedangkan Pancasila versi Gerindra adalah Pancasila versi Pembukaan UUD 1945 yang lahir dan disahkan tanggal 18 Agustus 1945 dan yang berlaku sejak Dekrit Presiden tanggal 5 Juli 1959.
Sehingga perlu dipertegas oleh Jokowi-JK seadainya terpilih sebagai Presiden apakah tetap konsisten dengan Pancasila versi Pembukaan UUD 1945 ataukan Pancasila Versi Ir Soekarno. Hal ini penting karena selama era reformasi ini Pancasila Versi Pembukaan UUD 1945 yang dijadikan Dasar negara dan sumber dari segala sumber hukum dan yang lahir tanggal 18 Agustus 1945. Akan tetapi pemerintah tidak berani menetapkannya sebagai hari lahir Pancasila sebagai Dasar Negara. Malah yang kadang diperingati adalah hari lahirnya Pancasila versi Ir Soekarno tanggal 1 Juni 1945 seperti yang dilakukan oleh MPR-RI pada masa kepemimpinan Taufik Kemas.
Kalau diperingati oleh PDIP ya wajar saja tetapi tidak bisa oleh pemerintah karena akan memuculkan kontroversi. Hal ini makin menjadi penting Capres Jokowi menjawab pertanyaan kapan lahirnya Pancasila agar tidak meyulitkan para guru dan dosen mengajarkan pada siswa dan mahasiswa tentang hari lahirnya Pancasila. bila terpilih jadi Presiden. Sebaliknya jika Bung Bowo jadi Presiden tentu diharapkan dilemma tentang kapan lahirnya Pancasila versi negara harus berani ditegaskan olehnya agar ada kepastian.
Ketiga : Dari aspek kepemimpinan dalam pemerintahan ada yang demokratis tapi sangat hati-2 , ada yang otoriter tp pro negara dan rakyat , ada yang tegas dalam prinsip tapi santun dan demokratis dalam cara . Dalam teori dikenal ada these dan antithese . Pengalaman menunjukan Indonesia mengalami itu. Tahun 1945-1959 kepemimpinan yang demokratis ( liberal ) tetapi instabilitas pemerintahannya. These ini digantikan dengan kepemimpinan yang Otoriter ( Demokrsi Terpimpin sbg antithese ) tahun 1959-1966. Hal ini berlanjut tahun 1966-1998 ( masa orba dgn demokrasi mufakat atas restu penguasa ).
Kemudian muncul these kembali ke demokrasi liberal tahun 1999- sekarang dengan kepemimpinan yang moderat tetapi terkesan kurang tegas dan keamanan kurang terjamin. Menjadi pertanyaan these dengan figur manakah yang akan terpilih ? Yang populer karena blusukan atau yang mantan militer ? yang terkesan pro rakyat atau yang tegas dan jamin keamanan ? Yang konsisten dengan Pancasila versi Pembukaan UUD 1945 atau versi Soekarno ? ini bukan kampanye hitam atau memprovokasi tapi tulisan pengamat yang netral utk menjustifikasi alasan memilih bagi pemilih. Silahkan renungkan dan pilih yang mana capres yang sesuai untuk tantangan 5 tahun kedepan.
