Belum optimalnya realisasi anggaran belanja pada pos-pos belanja operasional yang juga terjadi secara nasional diperkirakan menjadi faktor penarik pertumbuhan konsumsi pemerintah mengalami kontraksi pada triwulan IIISementara itu, impor barang dan jasa Sulawesi Utara tercatat tumbuh menguat dan menjadi faktor pengurang yang cukup besar pada pertumbuhan ekonomi Sulut triwulan III 2019.
Sebagai provinsi yang masih membutuhkan pasokan barang termasuk dari luar negeri, impor akan menjadi faktor pengurang pada pertumbuhan ekonomi.
Impor barang dan jasa tercatat tumbuh sebesar 1,07% lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya yang tercatat terkontraksi sebesar 2,19% (yoy).
Naiknya impor barang dan jasa Sulawesi Utara tercermin pada kenaikan impor luar negeri batu bara Sulawesi Utara dengan jenis bituminous demi menunjang industri semen.
Sementara itu, impor antar daerah Sulut juga diperkirakan meningkat seiring pertumbuhan volume bongkar yang lebih tinggi pada triwulan III 2019 dibandingkan triwulan sebelumnya.
Dari sisi ekspor barang dan jasa, pertumbuhan ekspor Sulawesi Utara pada triwulan III 2019 masih berada dalam periode kontraktif. Ekspor luar negeri Sulawesi Utara pada triwulan III 2019 tercatat terkontraksi sebesar 1,12 % (yoy) lebih rendah dibandingkan kontraksi pada periode sebelumnya yang
tercatat sebesar 4,67% (yoy).
Harga CNO yang pada periode Juli-September yang sudah mulai menanjak setelah mencapai titik terendahnya di bulan triwulan II 2019 diperkirakan menjadi salah satu faktor kontraksi ekspor barang dan jasa lebih kecil.
Ditinjau dari sisi pengeluaran, menguatnya pertumbuhan Konsumsi Rumah Tangga dan Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) menjadi faktor penopang penting bagi pertumbuhan ekonomi Sulawesi Utara.
Pertumbuhan konsumsi rumah tangga Sulawesi Utara pada Triwulan III 2019 menunjukkan penguatan dengan mencatat pertumbuhan sebesar 7,27% (yoy), menguat dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh 6,07% (yoy).
Konsumsi rumah tangga menguat seiring pelaksanaan Pengucapan Syukur di 5 Kab/Kota di Sulawesi Utara serta meningkatnya konsumsi pendidikan menyambut tahun ajaran baru.
Menguatnya pertumbuhan konsumsi rumah tangga juga sejalan dengan menguatnya indeks tendensi konsumen (ITK) BPS yang pada triwulan III 2019 tumbuh sebesar 4,37%(yoy) lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ITK Triwulan II 2019 yang tercatat tumbuh sebesar 2,88% (yoy).
Sementara itu, PMTB pada Triwulan III 2019 tercatat tumbuh sebesar 7,01% (yoy) menguat dibandingkan pertumbuhan triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 3,41% (yoy).
Menguatnya pertumbuhan PMTB tersebut sejalan dengan percepatan realisasi belanja modal buhanintah, percepatan pembangunan proyek strategis nasional di Sulut serta meningkatnya impor
mesin.
Memperhatikan perkembangan hingga Triwulan III 2019, Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi kedepan akan cenderung membaik namun relatif terbatas.
Pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang relatif kuat dan menguatnya pertumbuhan PMTB di Sulut diperkirakan masih menjadi faktor penopang pertumbuhan ekonomi Sulawesi Utara di tengah kinerja ekspor belum membaik.
Bank Indonesia dalam hal ini melakukan monitoring dan mencermati perkembangan
serta risiko eksternal serta domestik yang berpotensi mempengaruhi perekonomian Sulawesi Utara.
Berbagai risiko, baik risiko eksternal terkait perang dagang antara Tiongkok dan USA, risiko berlanjutnya tren negatif harga komoditas unggulan, serta risiko geopolitik dapat mempengaruhi pertumbuhan perdagangan dan harga minyak dunia, sehingga perlu diwaspadai bersama.
“Selain itu, juga masih perlu diperhatikan beberapa risiko yang bersumber dari permasalahan yang dihadapi emperkuatbangunan infrastruktur, percepatan investasi dan percepatan realisasi anggaran,” ungkap Arbonas.
