
Penulis: Mega Anggawirya Zas | DPRD Sulut
Aksi unjuk rasa mahasiswa yang tergabung dalam Persatuan Mahasiswa Sulawesi Utara (PERMSTA) di Gedung DPRD Sulawesi Utara (Sulut), Rabu (04/11/2026), menghadirkan sejumlah momen menarik.
Selain menyampaikan aspirasi melalui orasi dan berbagai simbol perjuangan, massa aksi juga memperlihatkan ekspresi keberagaman dalam menjalankan keyakinan masing-masing.
Di tengah berlangsungnya demonstrasi, massa membawa simbol salib berwarna merah. Aksi tersebut juga diwarnai salat Magrib berjamaah di jalanan oleh mahasiswa Muslim serta doa bersama yang dilakukan mahasiswa Kristiani.
Pemandangan ini menjadi salah satu potret keberagaman di tengah penyampaian aspirasi mahasiswa.
Tak hanya menyuarakan isu-isu politik dan kebijakan pemerintah, salah satu orator perempuan juga melontarkan kritik yang mengundang perhatian massa terkait kebijakan perpajakan terhadap kebutuhan perempuan, khususnya alat sanitasi wanita (pembalut) diangkat.
Dalam orasi dari atas mobil pengeras suara, ia menyuarakan kebutuhan dasar perempuan yang berkaitan dengan siklus menstruasi ikut menjadi urusan pemerintah.
“Kami kaum wanita sudah naluriah diberikan berkah untuk menstruasi. Kami tidak pernah meminta itu kepada Tuhan, tapi Tuhanlah yang memberikan berkah itu kepada kami. Namun, disayangkan ketika kami mengalami masa itu, pemerintah ikut campur dengan menarik pajak ke pembalut kami,” ujar orator tersebut.
Pernyataan itu menjadi salah satu sorotan dalam aksi PERMSTA. Dengan bahasa yang lugas, ia menyampaikan keberatan terhadap beban pajak yang dinilai dapat berdampak pada akses perempuan terhadap kebutuhan sanitasi menstruasi.
Adapun aksi yang berlangsung dari siang hingga malam hari tersebut berlangsung damai. Meski sempat terjadi dorong mendorong antara pengunjuk rasa dan petugas keamanan, aksi unjuk rasa tetap berakhir dengan aman.
