Bisnis dan Ekonomi

Perkembangan Ekonomi Sulawesi Utara dan Arah Bauran Kebijakan Bank Indonesia 2022

9 Sektor Siap Kredit

Lebih dalam terkait respon kebijakan makroprudential, Bank Indonesia bersinergi mendorong kredit perbankan dan transformasi sektor keuangan.

Penawaran kredit perbankan relatif kondusif, suku bunga menurun, likuiditas melimpah, dan lending standard membaik sehingga kebijakan berfokus pada permintaan dunia usaha melalui akselerasi peningkatan dan kemudahan pembiayaan dari sektor keuangan kepada dunia usaha.

Dalam jangka pendek, kebijakan untuk mendorong penyaluran kredit perbankan akan difokuskan dengan mempertimbangkan kondisi baik dari sisi penawaran kredit oleh perbankan maupun sisi permintaan kredit dari dunia usaha.

ADVERTISEMENT

Pemetaan sektor-sektor prioritas siap kredit telah dilakukan untuk memahami faktor mana yang lebih dominan dan respons kebijakan yang diperlukan.

Secara nasional, ada 9 sektor yang siap untuk menerima peningkatan pembiayaan kredit berdasarkan kondisi yang sedang dialami.

Untuk industri makanan minuman, kimia, otomotif, dan alat angkut lainnya, angka penyaluran kredit sedang mengalami peningkatan dipicu oleh faktor permintaan dari korporasi serta lembaga perbankan yang juga siap untuk membiayai.

Sementara sektor-sektor lainnya masih perlu diberikan insentif untuk mendorong kredit, baik berupa insentif di sektor riil agar prospek bisnis lebih baik, maupun insentif ke perbankan dalam bentuk jaminan kredit, insentif suku bunga, serta pelonggaran kebijakan makroprudensial. 

Lebih lanjut, 4 di antara 9 sektor siap yang telah dipetakan secara nasional tersebut ternyata juga memiliki keselarasan dengan sektor yang signifikan di Sulawesi Utara yaitu, sektor perkebunan, hortikultura, tanaman pangan, dan makanan & minuman.

6 Sektor Prioritas di Sulut

Selanjutnya spesifik di Provinsi Sulawesi Utara, terdapat 6 sektor lapangan usaha utama yang berperan penting dalam menopang perekonomian Sulut, dilihat berdasarkan aspek tenaga kerja, struktur PDRB, keterkaitan sektor dan risiko penularan.

Terjaganya aktivitas ekonomi pada 6 LU ini menjadi kunci pemulihan ekonomi bagi Provinsi Sulawesi Utara.

Bahkan 3 dari LU tersebut juga telah selaras dengan pemetaan sektor siap kredit secara nasional yaitu Sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan, Industri Pengolahan, dan Perdagangan.

” Dan dapat kita lihat perkembangan kredit perbankan yang diberikan kepada sektor-sektor tersebut di Sulawesi Utara selama tiga tahun terakhir. Hal ini, kami harapkan dapat menjadi referensi dan pertimbangan kepada perbankan untuk dapat meningkatkan penyaluran kredit kepada sektor-sektor tersebut,” ujar Arbonas.

RPIM dan UMKM KPJU Sulut

Selain itu, dalam rangka mendorong fungsi intermediasi yang seimbang dan berkualitas, Bank Indonesia juga akan melakukan peningkatan akses pembiayaan inklusif dan pengembangan bagi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dan Perorangan Berpenghasilan Rendah (PBR) melalui pengaturan Rasio Pembiayaan Inklusif Makroprudensial (RPIM).

Kebijakan Rasio Pembiayaan Inklusif Makroprudensial (RPIM) akan terus ditingkatkan efektivitas implementasinya baik dalam bentuk upaya klasterisasi dan korporatisasi UMKM, bersinergi dengan Pemerintah, mendorong kerja sama bank dengan lembaga mitra penyalur UMKM, maupun dengan pengembangan sekuritas pembiayaan UMKM yang dapat memenuhi persyaratan.

Bank Indonesia juga bersinergi dengan Pemerintah dalam perluasan akses pembiayaan serta pengembangan UMKM, termasuk kelompok berpenghasilan rendah, dan subsisten.

Terkait UMKM di Sulawesi Utara, dengan menggunakan metode Analytical Hierarchy Process, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Utara merekomendasikan sejumlah Komoditas, Produk dan Jenis Usaha Unggulan UMKM Provinsi Sulut pada tahun 2021. 

Komoditas-komoditas strategis tersebut ada di berbagai kabupaten/kota di Sulawesi Utara dan berpotensi untuk dikembangkan lebih lanjut.

Berbagai dukungan terhadap KPJU Unggulan tersebut perlu dimobilisasi, antara lain dalam bentuk program atau stimulus belanja pemerintah daerah, penyederhanaan akses pasar dan perizinan, serta tersedianya dukungan modal terutama dari perbankan. 

Proses pemulihan perekonomian daerah membutuhkan sinergi antar lembaga dan pemangku kepentingan, termasuk dengan lembaga perbankan dan akademisi.

“Kami berharap, sinergi kebijakan antara Bank Indonesia dengan lembaga perbankan melalui BMPD dan akademisi melalui ISEI selaku mitra kerja di daerah dapat terus terjalin dengan baik. Pemulihan ekonomi regional perlu menjadi perhatian kita bersama. Oleh karena itu, optimisme dan perspektif positif perlu terus diperkuat untuk menyongsong masa depan ekonomi Sulut yang lebih baik,” pungkas Arbonas.

(srisurya)