Opini

Percakapan Usai FIFA Batalkan Pildun U20 di Indonesia: Ini Rahasia Anak-anak Yahudi Pintar

Percakapan Usai FIFA Batalkan Pildun U20 di Indonesia: Ini Rahasia Anak-anak Yahudi Pintar

Oleh: Tenni Assa

Dalam chatingan WhatsAp Group (WAG) Perhimpunan Intelektual Kawanua Global (PIKG), di mana saya adalah salah satu anggota dari 234 anggota, ada informasi yang sangat menarik yang membuat saya menulis sehingga bisa dibaca oleh publik yang lebih luas.

Ini tulisan yang di-share wartawan senior Jeffrey Rawis yang juga Ketua Umum DPP GPPMP 14 Februari 1946 yang diawali dengan judul dalam bentuk pertanyaan “Kenapa para Yahudi/Orang Israel sangat berkualitas?”

Setelah membaca tulisan Pastor Stefanus Wolo Itu dengan keluarga Israel-Swiss di Stein, jika dibaca lebih jauh lagi, ternyata di Israel yang jumlah penduduknya 9,364 juta jiwa (2021), ada 4 agama yang dianut.

Penganut agama terbesar adalah Yahudi 6.820 juta jiwa atau sekitar 74,2 persen, sedangkan Islam di urutan kedua sekitar 17,8 persen.

Agama Kristen ada 2 persen di urutan ketiga dan keempat agama Druze atau Daraziyah 1,6.

Menariknya, keempat agama ini hidup rukun.

Berikut tulisan Pastor Stefanus Wolo Itu warga Indonesia yang tinggal di Eiken AG Swiss, dengan judul Pendidikan Anak, Kekuatan Orang Israel. (Obrolan Ringan dengan Keluarga Swiss-Israel)

Malam tadi saya mengunjungi keluarga Israel-Swiss di Stein.

Ya, kunjungan orang Indonesia di tengah pro kontra kehadiran team sepak bola Israel U-20 di Indonesia.

Saya mengenal keluarga ini sejak Desember 2014, melalui putri mereka Dynia salah satu putri altar paroki.

Karena baru tiba dari Jerman, saya berusaha mengenal umat, termasuk putra putri Altar.

Saya menanyakan nama, tempat tinggal dan asal usul orang tua.

Mereka datang dari pelbagai bangsa: Swiss, Jerman, Italia, Austria, Polandia, negara-negara eks Jugoslavia, Amerika Latin, Afrika, dan Thailand.

Saya juga menanyakan asal usul Dynia.

Dynia menjawab: “Ibu saya Lydia orang Swiss dan ayah saya Tanja dari Israel. Mama saya katolik. Ayah saya penganut Yahudi. Tapi keluarga kami rukun. Bapak mendukung saya dibabtis katolik, menerima komunio pertama dan menjadi putri altar”.

Tahun 2015 saya mengunjungi mereka.

Rumah mereka letaknya di pinggir sungai Rhein, tak jauh dari industri farmasi Novartis.

BeritaManado.com: Berita Terkini Kota Manado, Sulawesi Utara