Atau bisa jadi, dugaan politik uang masih menonjol.
“Banyak pemilih datang karena telah menerima suap dari tim sukses. Atau sudah dijanjikan sesuatu jika berhasil memilih calon tertentu,” bebernya.
Faktor berikutnya, tambah Liando, karena ‘perang’ antar pemilih di media sosial.
Ini menjadi pemicu tingginya pengguna hak pilih.
“Karena saling memanasi, maka ada ketakutan atau gengsi. Maka ia berusaha mengajak rekan-rekannya mencoblos calon yang didukung,” tandasnya.
(Alfrits Semen)
