Kotamobagu – Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) yang terjadi di wilayah Kota Kotamobagu memang turut disebabkan faktor alam, dimana salah satu akses yaitu jembatan di Desa Matani Minahasa Selatan mengalami kerusakan. Namun Pemkot Kotamobagu sebaiknya mengeluarkan ultimatum kepada pengelolah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) yang bertindak ‘nakal’.
Surahman Thohir mewakili aktivis 98 turut angkat bicara soal hal tersebut. Menurutnya, pemerintah seperti kurang responsif dalam mengambil langkah mengatasi kelangkaan BBM.
“Harusnya pemerintah memberi instruksi instansi terkait koordinasi dan pengamanan di SPBU. Disamping itu bisa juga dilakukan kebijakan yang tidak merugikan banyak orang. Boleh juga dilakukan pencatatan plat nomor kendaraan. Tujuannya untuk mengatur setiap kendaraan hanya bisa mengisi BBM satu kali dalam sehari. Hal tersebut pernah dilakukan Pemkot Gorontalo,” ungkap Surahman. (harismongilong)

Janganlah terlalu menekan ke pengusaha SPBU, pikirkan Areal Kotamobagu yang cukup besar hanya di kelola +/- 7 SPBU apa pantas??! Motor yg ada di Tanoyan klu hanya beli bensin 2 or 3 liter harus ke Kotamobagu? Kendaraan bermotor semakin banyak. Coba datangkan investor dan perlunak ijin utk buka SPBU baru. Katanya mau jadi Propinsi, yg ini saja hanya menyalahkan satu pihak dan tdk cari slosusi? Mana kambing hitamnya…..