BITUNG—Impian puluhan siswa SMP negeri 10 Motto di kelurahan Motto kecamatan Lembeh Utara untuk menikmati bacaan di gedung perpustakaan masih jauh diawang-awang. Padahal, awal tahun ini impian untuk bisa membaca gratis di ruangan perpustakaan sedikit membawa titik terang bagi Marinda Dumaat dan puluhan siswa lainnya, setelah sekolah mereka mendapat bantaun gedung perpustakaan.
Namun sayangnya, hingga bulan ini, Marinda dan rekan-rekannya belum juga bisa menggunakan fasilitas tersebut karena dari bulan Januari hingga Juli, gedung tersebut tak kunjung selesai dibanguan dan hanya sampai pada tahap pembangunan pondasi bangunan saja.
“Kami tidak tahu kapan bangunan tersebut selesai, karena sudah beberapa bulan tidak ada aktifitas pembangunan lagi setelah pondasi gedung dibanguan,” ujar Dumat sambil menatap pondasi gedung yang kini mulai ditumbuhi rumput liar.
Dumaat, sendiri membayangkan bisa membaca puluhan hingga ratusan judul buku di gedung tersebut jika selesai nantinya secara gratis. Namun entah kapan. Karena saat ini saja dirinya sudah berada di kelas tiga yang tentu tinggal setahun lagi sudah harus melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi.
“Mudah-mudahan kalau sudah di SMA nanti dan gedung tersebut selesai, saya masih diperbolehkan untuk masuk membaca dirungan tersebut bersama adik-adik SMP,” harap Dumat seraya matanya terap menatap besi bangunan yang mulai berkarat dan menerawang jauh membayangkan nikmatnya bisa membaca buku.
Pembangunan gedung perpustakaan SMP negeri 10 Motto ini sendiri menurut Kadis Dikpora Kota Bitung, Herman Rompis, masa pelaksanaannya sudah berakhir bulan Mei 2011 lalu. Namun dirinya mengaku belum mengetahui pasti kenapa proyek tersebut belum juga diselesaikan oleh kontraktor yang dipercayakan melakukan pekerjaan tersebut.
“Saya akan cek siapa kontraktor yang mengerjakan proyek tersebut dan apa alasannya hingga belum diselesaikan. Namun yang jelas proyek tersebut berasal dari anggaran DAK 2011,” kata Rompis.
Rompis sendiri mengaku bakal melakukan pengecekan ke bagian bendahara soal anggaran pembangunan gedung perpustakaan tersebut. Apakah pembayaran sudah 100% diberikan ke kontraktor atau bagaimana karena setahu dirinya sistim pembayaran menggunakan sistim volume atau opname hasil pekerjaan dilapangan.
“Kalau memang dana yang dicairkan melebihi dari pekerjaan dilapangan maka jelas itu pelanggaran, apalagi jika pembangunan baru sampai pada tahap pondasi namun anggaran yang dicairkan sudah 50% maka itu salah besar. Namun pastinya saya akan cek,” ujar Rompis.(en)
