Politik dan Pemerintahan

1.839 Ranting Jadi Target, PDIP Sulut Buktikan Konsisten Berpolitik Tanpa Tunggu Musim Pemilu

PDI Perjuangan Sulut memperkuat mesin organisasi dari tingkat ranting
PDI Perjuangan Sulut memperkuat mesin organisasi dari tingkat ranting

Penulis: Tim Redaksi

Manado – Sebanyak 1.839 ranting menjadi target konsolidasi organisasi DPD PDI Perjuangan Sulawesi Utara.

Angka ini menegaskan skala besar penyegaran partai yang sedang berlangsung di seluruh provinsi, jauh sebelum tahapan Pemilu resmi dimulai.

ADVERTISEMENT

Di bawah komando Ketua DPD Olly Dondokambey, proses penyegaran kepengurusan kini berjalan melalui Fit and Proper Test (FPT) dan wawancara terhadap calon Ketua Ranting.

Tahapan ini digelar serentak di 15 kabupaten/kota se-Sulut.

Bukan Sekadar “Partai Pemilu”

Pengamat politik Stefan Voges, SH MH, menilai langkah ini sebagai bukti keseriusan PDIP membangun struktur partai yang solid.

Menurutnya, struktur ranting dan anak ranting yang hidup dan militan selama ini diakui secara internal sebagai kunci kemenangan historis PDIP pada Pileg lalu.

“Penguatan dini ini menjadi modal utama untuk merebut dominasi suara kembali pada pemilu serentak berikutnya,” ujar Voges.

Diharapkan Jadi Inspirasi Partai Lain

Pengamat politik FISIP Unsrat, Drs Mahyudin Damis, M.Hum, menilai konsolidasi organisasi yang dilakukan jauh sebelum tahapan pemilu patut diapresiasi sebagai bagian dari fungsi kelembagaan partai politik.

Menurutnya, langkah ini semestinya memicu seluruh partai politik untuk terus menghidupkan organisasi, bukan hanya ketika mendekati kontestasi elektoral.

“Saya berharap langkah konsolidasi yang dilakukan PDIP Sulawesi Utara tidak berhenti sebagai agenda internal partai, tetapi menjadi inspirasi bagi seluruh partai politik untuk membangun tradisi berorganisasi sepanjang waktu. Demokrasi yang sehat membutuhkan partai yang hidup setiap hari, bukan partai yang baru sibuk ketika pemilu sudah di depan mata,” ujar Damis.

Proses FPT dan wawancara calon Ketua Ranting ini menjadi contoh nyata bagaimana kerja politik yang konsisten dan membumi dapat menjadi fondasi kepercayaan publik yang berkelanjutan, jauh melampaui hitungan elektoral semata.